Home TANGERANG HUB Masih Menjanjikan, Atap Daun Kirai Tetap Diproduksi

Masih Menjanjikan, Atap Daun Kirai Tetap Diproduksi

0
SHARE
MENGANYAM: Janah (kanan) menganyam daun kirai di rumahnya, di Kampung Panameng RT 03/05, Desa Jengkol, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Kamis (17/10). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

KRESEK – Meski bangunan saat ini kebanyakan sudah menggunakan atap dari genteng dan asbes, namun tidak membuat produksi atap tradisional atau atap dari daun kirai berhenti. Ternyata, permintaan masih tetap banyak untuk mengatapi peternakan kandang ayam, saung di kebun maupun lesehan pada sebuah restoran dan cafe.

Di Desa Jengkol, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang pengrajin atap kirai ini masih banyak ditemukan. Salah satunya Janah, yang hingga saat ini masih aktif membuat anyaman tersebut. Meski jumlah permintaan atap tradisional tersebut sudah melewatkan masa-masa kejayaannya, namun setiap hari ada saja pesanan yang harus dipenuhi Janah.

Proses pembuatan atap dari daun kirai. Dimulai dari pemotongan daun kirai di kebunnya. Mengumpulkan daun kirai. Setelah dikumpulkan, pohon kirai mulai diikat ke potongan batang bambu berukuran panjang 1,5 meter. Proses itu dinamakan proses penganyaman. Setelah menyerupai atap, daun kirai dikirim ke para pemesan.

Janah mengatakan, jika profesi yang dilakoninya itu ia dapatkan dari kedua orangtuanya yang merupakan penganyam atap kirai. Katanya, sehari bisa membuat 15 sampai 20 lembar atap kirai. Untuk bahan bakunya sangat mudah ditemukan di kebun kirai dan bahkan tidak mengeluarkan biaya sepersenpun.

“Bahan dasarnya gratis sehingga tidak butuh modal yang besar untuk membuat atap kirai ini,” kata Janah, sambil menganyam atap kirai, Kamis (17/10).

Janah mengaku, soal harga setiap atap dijual Rp2.500 per lembar. Dia menjelaskan, anyamannya itu semakin kering makin kuat dan anti bocor. Makanya, sebagian besar pembeli memilih atap yang sudah kering.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here