Home BANTEN Bagian dari Pelestarian Budaya Banten, Uci Sanusi Menarik Tiga Mobil

Bagian dari Pelestarian Budaya Banten, Uci Sanusi Menarik Tiga Mobil

0
SHARE
MENARIK MOBIL: Uci Sanusi saat menarik tiga mobil sekaligus, yang dipandu gurunya, di halaman Masjid Raya Albantani, KP3B, Kota Serang, Selasa (29/10). FOTO: Andi Suhandi/Banten Ekspres

Kebudayaan di Provinsi Banten sangatlah unik dan beragam. Salah satu diantaranya yang kemudian menjadi label masyarakat Banten adalah debus. Artinya, jika seseorang mendengar kata “Debus”, maka yang terlintas dalam benaknya adalah Banten.

Hal itulah yang menjadi salah satu motivasi Uci Sanusi warga perumahan Lopang Indah Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Kota Serang kembali melakukan aksi menarik mobil menggunakan rambut. Kali ini ada tiga mobil yang ditarik di halaman Masjid Raya Al Bantani, KP3B, Kota Serang, Selasa (29/10). Sebelumnya, aksi pertama dilakukan di Kawasan Kesultanan Banten atau Banten Lama pada 14 Oktober lalu. Saat itu, ia hanya menarik satu mobil menggunakan rambutnya.

Pantauan di lapangan, atraksi tersebut dilakukan sekitar pukul 16.30 WIB. Sebelum aksi tarik itu dilakukan, Uci terlebih dahulu melakukan atraksi memecahkan kelapa menggunakan tangan kosong. Sukses diaksi pembuka, pria berambut gondrong tersebut langsung memulai aksi tarik tiga mobil menggunakan rambut. Untuk menambah beban, ketiga mobil ditumpangi beberapa orang dewasa. Tanpa keraguan, Uci pun berhasil menarik ketiga kendaraan roda empat itu mengelilingi halaman masjid.

Astari yang merupakan guru Uci mengatakan, untuk aksi kali ini seluruhnya Uci menarik beban hingga tiga ton. Selain menggunakan rambut, penarikan mobil juga dibantu kedua pundaknya. “Narik mobil tiga yang bermuatan satu mobil satu ton. Nariknya juga tidak hanya sekali, tapi beberapa kali putaran,” katanya.

Ia menjelaskan, atraksi yang dilakukan merupakan bagian dari pelestarian budaya Banten. Selain itu juga sebagai edukasi jika dahulunya nenek moyang di Banten ini banyak menguasai aksi-aksi tersebut. Tujuannya adalah bentuk perlindungan diri dari penjajah. “Sebenarnya untuk menunjukkankalau nenek moyang kita di Banten ini begini. Untuk menakut-nakuti musuh agar menyelamatkan bangsa agar masyarakat tidak teraniaya oleh musuh. Sebagai yang punya ilmu kanuragan supaya tidak terjadi penjajahan,” katanya.

Diakuinya, ilmu yang didapat dan diturunkan ke muridnya Uci diperoleh tak hanya dari Banten tapi juga dari berbagai daerah di nusantara. Karena dia pribumi Banten maka kebudayaan Banten lah yang ditonjolkan. “Sebagian warisan Banten, tidak semua dari Banten saya miliki dari mana-mana juga. Setelah menarik mobil hari ini (kemarin-red) juga ada mengupas durian pakai kepala. Insya Allah juga akan ada samurai dimasukkan ke mulut. Ke depan banyak atraksi yang lain yang akan dipergakan,” ungkapnya.

Sementara itu, Uci mengaku senang atraksinya bisa berjalan dengan lancar. Meski terdapat beberapa hal di luar dugaan namun bisa diatasinya. “Alhamdulillah tadi berjalan lancar cuma tadi ada satu kesalahan gigi (perseneling mobil) masuk dan remnya masuk. (Atraksi) baru dua kali di sini sama di Banten Lama,” tuturnya.

Untuk bisa melakukan aksinya, Uci sudah sejak lama melakukan persiapan dan memelajari ilmunya. Bahkan dia juga telah berpuasa bertahun-tahun agar aksi ekstremnya berjalan sukses. “Persiapan sudah lama cuma baru ini saja dipraktikan. Kalau puasa lima sampai tujuh tahunan,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here