Home TANGERANG HUB Tangerang Waspada Banjir, Efek Sampah dan Sungai Dangkal

Tangerang Waspada Banjir, Efek Sampah dan Sungai Dangkal

0
SHARE
BANJIR: Relawan PBD Kabupaten Tangerang mendistribusikan makanan kepada warga yang terdampak banjir di Kampung Melayu, Kosambi, Jumat (27/12). FOTO: BPBD for Tangerang Ekspres

CURUG – Guyuran hujan lebat pekan kemarin berdampak di Kecamatan Kosambi dan Curug. Sejumlah rumah warga dilanda banjir. Banjir di Kecamatan Curug terjadi di Perum Binong mencapai ketinggian sepaha orang dewasa. Untungnya cepat surut. Sedangkan banjir di Kecamatan Kosambi terjadi di Kampung Melayu dan Kelurahan Salembaran Jaya dengan tinggi air mencapai 50 sentimeter. Penyebabnya, luapan sungai akibat penyempitan dan pendangkalan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Bambang Sapto mengatakan, banjir di Kecamatan Kosambi baru dua hari kemudian surut. Hal ini disebabkan, air laut yang sedang pasang. Serta, adanya penyempitan dan pendangkalan aliran anak Sungai Cisadane. “Surutnya lama di Kampung Melayu. Di sana, air baru surut sekira dua hari kemudian dan ini terhitung lama. Kita juga turun tangan langsung ke sana dengan mendistribusikan logistik dan tenda bencana,” katanya kepada Tangerang Ekspres, Senin (30/12).

Bambang memaparkan, saat ini Kabupaten Tangerang masih berada pada level waspada banjir. Hal ini berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Metrologi dan Geofisika (BMKG). Ia mengimbau, kepada warga bergotong royong membersihkan saluran air. “Momoknya memang sampah dan drainase untuk di dearah padat perumahan dan pemukiman. Kalau dilihat informasinya, kita sedang waspada banjir,” paparnya.

Lanjut Bambang, pada 9 pos siaga milik BPBD, sudah dilengkapi dengan peralatan penanganan bencana banjir. Mulai dari perahu karet, tali dan peralatan lain yang dibutuhkan untuk proses evakuasi warga yang terdampak banjir. Menurutnya, hampir semua kecamatan di Kabupaten Tangerang pernah diterjang banjir akibat luapan sungai maupaun rob air laut. “Terkecuali Kecamatan Jambe dan Panongan. Di data kita dua daerah ini belum pernah banjir dari 29 kecamatan,” jelasnya.

Bambang menjabarkan, daerah rawan banjir di Kabupaten Tangerang sudah diketahui. Yakni, kawasan pergudangan Milenium adanya penyempitan aliran sungai Cimanceuri dan berpotensi meluap. Serta di Desa Gelam Jaya yang cukup rawan, di mana daerah rendah dan potensial banjir. “Di Perum Tiga, ada kali Sabi yang potensial sering meluap. Terus di Desa Kadu, Curug, tepatnya, bawah tol Bitung, yang sering banjir karena faktor geometris, sering terendam. Ada juga Kali Cisereh yang rawan meluap, perbatasan Cikupa dengan Curug,” jelasnya.

Sedangkan di pantai, Bambang mengatakan, ada pertemuan antara aliran sungai dengan rob pantai. Sehingga dapat menyebabkan banjir di beberapa daerah. Dari database ada beberapa kecamatan yang masuk titik rawan banjir. “Kalau cukup rawan banjir ada sekitar 7 titik, apabila curah hujan besar. Titik ini tersebar di Curug, perbatasan Kecamatan Cikupa dengan Curug. Daerah pantai ada Kosambi, Teluknaga, dan Pakuhaji,” jelasnya.

Bambang menegaskan, permasalahan banjir penyebabnya banyak faktor. Menurutnya, ulah manusia menjadi penyebab yang paling dominan ketimbang adanya faktor alam. “Momoknya sampah dan saluran drainase yang mampet. Berdasarkan pengalaman, banjir di kala hujan deras, banjir diakibatkan sampah yang menumpuk di saluran air. Untuk mengatasinya, kita koordinasi dengan camat dan dinas yang berwenang, untuk membersihkan saluran air itu,” tutupnya. (mg-10)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here