Home TANGERANG HUB Sambut Pembelajaran E-Learning, Tunggu Konsep Pihak Ketiga

Sambut Pembelajaran E-Learning, Tunggu Konsep Pihak Ketiga

0
SHARE
DISKUSI: Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar (dua dari kanan), mengikuti focus group discusion, dengan tema pendidikan berbasis e-learning, kemarin. FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

TIGARAKSA –Metode belajar elektronik sistem (e-learning) masih menunggu konsep. Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang belum mau melangkah. Sebab, hingga saat ini, belum ada perguruan tinggi atau universitas maupun vendor menyerahkan sistem operasi. Padahal, e-learning ditargetkan diuji coba pada tahun ini. Rencanya, jadwal belajar siswa hanya tiga hari tatap muka di kelas dan tiga hari belajar di rumah dengan e-learning.

Sekretaris Dindik Kabupaten Tangerang, Ujang mengatakan, sudah banyak universitas maupun vendor tertarik ikut menawarkan konsep e-learning. Bahkan, sudah ada vendor menawarkan perangkat dan peralatan e-learning.

Ujang melanjutkan, setelah konsep didapatkan maka tahapan selanjutnya dibicarakan implementasi dan perangkat yang cocok digunakan. “Selama ini belum ada yang menyodorkan konsepnya, kita sebenarnya menunggu. Kita maunya bicara konsep dahulu, baru nanti perangkatnya bagaimana,” jelasnya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (30/1).

Menurutnya, keberadaan e-learning membantu sekolah meningkatkan jumlah siswa walaupun kekurangan ruang kelas. Termasuk, solusi bagi sistem belajar di sekolah dengan dua shift, pagi dan siang hari. “Kita berharap dengan e-learning semua murid bisa belajar pagi hari, itu rencananya,” jelasnya.

Sekolah yang menerapkan sistem e-learning tidak perlu lagi membangun ruang kelas. Ujang menungkapkan, pengadaan lahan untuk pembangunan ruang kelas memakan biaya tidak sedikit. “Nah, dengan menerapkan konsep e-learning tidak usah membangun ruang kelas. Kalau satu sekolah bisa menampung 100 orang per kelas maka adanya e-learning daya tampung bisa tiga kali lipatnya. Jadi mengurangi ruang kelas yang harus kita bangun,” ungkapnya.

Ujang memaparkan, metode e-learning tidak harus menambah tenaga pengajar. Namun, perlu dipersiapkan guru yang melek teknologi informasi. Nantinya, guru akan mengajar siswa dengan jumlah bisa mencapai tiga kali lipat dari daya tampung kelas. Dimana, siswa yang belajar di rumah dengan e-learning menggunakan teknologi informasi.

“Tidak mungkin kita memakai sistem e-learning, ternyata gurunya  gagap teknologi (gaptek), harus sejalan. Kita harus menyiapkan sumber daya manusia, utamanya guru. Tadinya bisa dilihat oleh 30 siswa, maka dengan e-learning bisa dilihat 60 orang bahkan lebih,” jelasnya.

Setelah konsep dan perangkat sudah final. Maka, dindik akan melakukan sosialisasi kepada orangtua siswa, guru dan siswa. Menurutnya, peran orangtua vital yakni mengawasi dan mengontrol anaknya belajar dengan e-learning saat dirumah.

“Kalau ada siswa yang diketahui tidak aktif, maka dihubungi orangtuanya. Ketika dipinjamkan alat atau perangkat untuk e-learning kepada orangtua dan siswa maka harus dijaga, jangan sampai rusak,” ungkapnya.

Ia berharap, universitas maupun vendor teknologi informasi segera menawarkan konsep e-learning kepada Disdik. Sehingga, sistem e-learning dapat dilakukan uji coba pada tahun ini dan pengembangan di beberapa sekolah pada tahun depan.

“Pasti ada trial and error, dan hasil pengembangan akan kita evaluasi. Kita mengembangkan tahap awal ada beberapa parameter, utamanya jangkauan sinyal provider seluler. Itu akan menjadi pertimbangan kita akan bekerja sama dengan provider mana,” tutupnya. (mg-10/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here