Home TANGERANG HUB Di Tubuh Manusia Ada Zat Radioaktif

Di Tubuh Manusia Ada Zat Radioaktif

84
0
SHARE

SETU-Selama dua minggu ini masyarakat dihebohkan dengan penememua zat radioaktif di Perumahan Batan Indah, Setu, oleh Bapeten. Namun, zat radioaktif sendiri tentunya belum banyak yang tahu dan termasuk oleh sebagain warga permukiman Batan Indah. Paparan yang menunjukkan di atas ambang batas menjadikan sebagian warga panik namun sebagian lainnya merasa biasa saja.

Kepala Bidang Keselamatan Kerja dan Dosimetri, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Heru Prasetio mengatakan, radioaktif merupakan kata sifat yang mempunyai arti senantiasa memancarkan energi yang kita kenal sebagai energi radiasi. “Jadi, zat radioaktif dapat diartikan sebagai suatu zat yang senantiasa memancarkan energi,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (29/2).

Heru menambahkan, radiasi di sini biasanya lebih merujuk kepada radiasi nuklir, radiasi yang dipancarkan dari inti atom. Radiasi yang dipancarkan zat radioaktif dapat berupa radiasi gamma, radiasi beta, radiasi alfa atau sinar-X.

Energi radiasi tersebut memiliki energi yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan terbentuknya ion, atau sering disebut dengan radiasi pengion (ionizing radiation).

“Energi inilah yang apabila dalam jumlah yang diperbolehkan akan memberi manfaat bagi manusia, namun bila berlebihan akan membahayakan,” tambahnya.

Masih menurutnya, di alam juga terdapat zat radioaktif, termasuk di dalam tubuh manusia. Radiasi alam yang terdapat di dalam tubuh manusia yaitu Kalium-40. Sehingga semua orang senantiasa mendapatkan paparan radiasi alam, baik dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh.

Kalium-40 tersebut terkandung dalam buah pisang. Jika kita memakan satu buah pisang dengan berat sekitar 150 gr, maka kita akan mendapat dosis radiasi sebesar 1 mikro sievert. Bisa dibayangkan bila setiap hari kita makan 3 pisang, berarti selama setahun kita mendapatkan dosis radiasi sekitar 1.000 mikro Sievert atau setara 1 mili sievert.

“Lantas apakah kita menjadi sakit gara-gara makan buah pisang? Tentunya tidak, bahkan kita malah jadi sehat. Secara alamiah setiap manusia mendapatkan paparan radiasi alam pada kisaran 2 miliSievert per tahun,” jelasnya.

Dalam ukuran kecil, seperti yang ada di alam, zat radioaktif tidak berbahaya bagi manusia. Oleh sebab itu sampai jumlah tertentu zat radioaktif dapat digunakan tanpa membahayakan tubuh. Sebagai contoh di bidang kesehatan, radiasi digunakan untuk diagnosis ataupun terapi penyakit.

Terkait dengan limbah radioaktif, Heru menjelaskan hal ini masih tergolong dalam bentuk zat radioaktif. Dalam jumlah yang kecil tentunya limbah ini tidak berbahaya namun, ketika dalam jumlah yang besar maka limbah ini akan berbahaya.

“Besar atau kecil ini bisa dilihat dari besarnya paparan radiasi yang diberikan. Sebagai acuan bisa dibandingkan dengan penggunaan zat radioaktif yang terbukti aman saat ini,” tuturnya.

Heru mencontohkan, peralatan CT scan yang sering digunakan di rumah sakit, akan memberikan paparan radiasi yang diterima tubuh sekitar 7-50 milisievert per pemeriksaan. Artinya, paparan radiasi sampai dengan setara nilai tersebut, dapat dikategorikan masih dalam batas aman dan tidak mengganggu kesehatan tubuh manusia.

Oleh sebab itu, jelas Heru, ketika ada paparan radiasi, maka yang perlu dilihat adalah berapa laju paparannya. Laju paparan ini biasanya dinyatakan dengan miliSievert per jam (mSv/jam). Karena paparan radiasi biasanya dalam nilai kecil, maka sering dinyatakan dalam mikroSv per jam, dimana 1 mSv per jam sama dengan 1000 mikro Sv per jam.

“Sebenarnya masyarakat dapat menghitung berapa paparan radiasi yang diterima, yaitu laju paparan radiasi dikalikan dengan lamanya waktu dia berada di situ, di area terpapar radiasi” ungkapnya.

Heru mencontohkan, untuk laju paparan 1 mikro sievert per jam, artinya selama 1 jam berada di tempat yang mengeluarkan radiasi, akan mendapatkan 1 mikroSievert atau 0,001 miliSievert. Dengan angka paparan tersebut, bisa diketahui berbahaya atau tidak limbah radioaktif tersebut.

“Sebagai informasi tambahan, laju dosis berbanding terbalik dengan jarak, artinya semakin jauh letaknya maka semakin kecil besaran paparan radiasi yang diterima. Besarnya paparan radiasi sebanding dengan waktu, semakin pendek waktu berada di daerah tersebut, semakin kecil mendapatkan paparan radiasi,” tutupnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here