Home TANGERANG HUB Bupati Siapkan Tempat Isolasi, Sekelas Hotel Bintang Tiga

Bupati Siapkan Tempat Isolasi, Sekelas Hotel Bintang Tiga

0
SHARE
Griya Anabatic di Blok SA-20, Jalan Dasana Indah, Bojong Nangka, Kelapa Dua dengan fasilitas mewah digunakan sebagai tempat merawat PDP dan positif Covid-19 dengan gejala ringan.

KELAPA DUA-Wabah Covid-19 di Kabupaten Tangerang berstatus kejadian luar biasa. Untuk memutus penyebaran virus Corona, Bupati Tangerang A.Zaki Iskandar menyediakan tempat isolasi di Griya Anabatic. Lokasinya berada di Blok SA-20, Jalan Dasana Indah, Bojong Nangka, Kelapa Dua. Tempat ini untuk mengisolasi, khusus bagi warga yang dinyatakan pasien dalam pengawasan (PDP) dan positif Corona, dengan gejala ringan.

Griya Anabatic ini merupakan tempat untuk kegiatan olahraga dan pelatihan yang lengkap dengan sarana dan prasarana, dengan ratusan kamar yang mampu menampung 200 orang. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten didapati 27 orang positif terjangkit Corona, 3 diantaranya dinyatakan sembuh. Adapun jumlah pasien dengan pengawasan (PDP) sebanyak 90 orang, 2 orang meninggal dan 87 orang masih dirawat serta 7 orang dinyatakan sembuh. Merebaknya wabah ini, Bupati mencari tempat isolasi yang layak dan memenuhi standar kesehatan.

Griya Anabatic dipilih sebagai tempat isolasi dengan bangunan berlantai tiga. Griya ini sekilas seperti apartemen, bangunan berlantai tiga berbentuk ‘L’. Lantai terbuat dari keramik dan bergaya modern, sekelas hotel bintang tiga.

Bupati Tangerang, A. Zaki Iskandar mengatakan, rumah sakit yang merawat pasien suspect maupaun positif Corona sudah mulai penuh. Untuk mengantisipasi bertambahnya pasien, ia mencari tempat isolasi. Di Griya Anabatic difungsikan merawat pesien dengan pengawasan (PDP) dan positif Covid-19 dengan gejala ringan. “Di sini adalah pasien dalam pengawasan (PDP) dan positif Corona. Baik yang tidak ada gejala maupun gejala ringan. Sedangkan tenaga medis yang di sini merupakan gabungan dari seluruh rumah sakit rujukan. Nanti bertugas secara bergantian,” katanya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (2/4) di Griya Anabatic.

Pantauan Tangerang Ekspres, setiap kamar di Griya Anabatic, dilengkapi dengan kamar mandi. Ada balkon, jendela besar, kamar tidur standar hotel, televisi, Panic Buttom, Wifi dan pendingin udara. Kamar mandi tersedia air panas untuk mandi. Satu kamar untuk satu pasien dan setiap pagi diwajibkan berjemur di balkon. “Bahayanya kalau kita buat tempat karantina di mall atau indoor, adalah kamar mandi. Kalau di sini kamar mandi komplet semua. Di sini benar-benar manusiawi,” jelasnya.

Zaki mengungkapkan, setiap lantai akan dijaga ketat dua petugas keamanan, dengan tiga orang petugas medis setiap shiftnya. Petugas medis bertugas selama 8 jam. Ia menegaskan, setiap kamar dikunci dari luar. Setiap lorong memiliki pintu yang dikunci oleh petugas keamanan. Sehingga dipastikan pasien tidak bisa keluar tanpa seizin petugs keamanan. “Semua benar-benar karantina selama 14 hari. Setiap dua hari sekali di cek rapid test. Apabila dua kali hasil tes negatif maka akan tes swap tenggorokan. Kalau hasil swap negatif baru boleh pulang. Ini lebih manusiawi dari kamar-kamar di tenda atau di ruang terbuka,” jelasnya.

Bupati Tangerang A.Zaki Iskandar (kiri) mengajak tokoh masyarakat, pemuda dan akademisi melihat fasilitas Griya Anabatic. FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

Ia menegaskan, obat-obatan dan vitamin disuplai setiap dua hari sekali. Petugas medis yang mengantarkannya. Zaki memaparkan, semua sampah dari Griya Anabatic akan diangkut sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Dan dipastikan tidak akan tercecer. Sebab diangkut oleh perusahaan khusus pengangkut limbah rumah sakit. “Baji dan selimut, dua hari sekali diganti dan di loundry. Kita desain semi rumah sakit,” terangnya.

Zaki berharap, pemeritah pusat menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sehingga bisa bekerjasama untuk benar-benar membatasi aktivitas sosial warga termasuk memberikan edukasi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Ia menyampaikan sudah menyurvai beberapa tempat untuk mencari tempat isolasi. Namun, yang dinilai representative yakni di Griya Anabatic. Zaki mengatakan sedang mempersipakan dua tempat lagi untuk isolasi. Di Griya Anabatic, Zaki berdiskuis dengan tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, mahasiswa dan akademisi. Zaki juga menghadirkan pengelola Griya Anabatic, untuk menjelaskan secara rinci tahapan pasien sebelum ke kamar. Prosedurnya, harus pasien yang mendapat rujukan dari rumah sakit dan sudah ditentukan PDP tanpa gejala ataupun pasien positif Corona tanpa gejala. Usai diperiksa dan melewati bilik disinfektan, pasien akan diperiksa surat rujukan dari rumah sakit asal rujukan penanganan Covid-19. “Apabila pasien yang positif Corona maka ditempakan di lantai tiga,” jelas Zaki.

Setelah dilakukan screening awal, pasien dibawa melewati lorong kamar oleh tenaga medis untuk di-crosscek ulang, mana pasien yang akan ditempakan di lantai tiga maupun di lantai dua. Ruangan ini dilengkapi kamera pengawas di setiap sudut dan tersedia tangga untuk petugas medis. Semua pasien menggunakan kursi roda dan diantar ke ruangan dengan lift oleh petugas medis.

General Affair Fasilities Management Griya Anabatic Nidia Kosasih menjelaskan Griya Anabatic memiliki 192 unit kamar. Posisi kamar untuk pasien Covid-19 ada di lantai 3 dan 4.

Khusus pasien Covid-19 hanya menggunakan 100 kamar. Ruang perawatan pasien virus Corona berukuran 3 x 6 meter. Fasilitas penunjang seperti AC, kamar mandi, Wi-Fi dan lemari.

Nidia menegaskan, untuk lantai 1 diperuntukan bagi tenaga medis. Lantai 2 tidak digunajan untuk menjaga jarak antara tenaga medis dengan pasien. Sedangkan lantai 4 atau yang paling atas pasien bisa untuk berjemur. (sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here