Home TANGERANG HUB Kiai dan Santri Tolak Rapid Test

Kiai dan Santri Tolak Rapid Test

0
SHARE
Kiai dan Santri Tolak Rapid Test
SIMULASI: Santri Ponpes Tarbiyatul Mubtabiin, saat ditanya petugas medis perihal riwayat kesehatan dan perjalanan selama dua minggu terakhir sebelum mendapat izin belajar kembali di ponpes, belum lama ini. FOTO: Dok. Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Munculnya teori konspirasi di tengah pandemi Covid-19, membuat sebagian kiai dan santri di Kabupaten Tangerang menolak rapid test yang digelar oleh Dinas Kesehatan. Padahal rapid test wajib diikuti oleh para santri dalam menunjang pembelajaran di Pondok Pesantren (Ponpes), yang telah dibuka oleh Bupati Tangerang pada 8 Juli lalu.

Asisten Daerah (Asda) I, Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat  Kabupaten Tangerang, Heri Haryanto membenarkan hal itu. Heri menyebut alasan kiai menolak mengikuti rapid test, lantaran munculnya teori konspirasi yang saat ini berkembang di masyarakat. Sebagian kiai percaya teori konspirasi ketimbang kebenaran sains, di tengah pandemi virus corona ini.

“Akhirnya para kiai tersebut tidak memperbolehkan para santrinya ikuti rapid test,” ujarnya, Senin (10/8).

Selain itu, kata dia, alasan lain yang menyebabkan terjadinya hal demikian, karena minimnya sosialisasi penyelenggaraan rapid test yang diberikan kepada para kiai. Sehingga, lanjut dia, para kiai mengira bahwa rapid test sama halnya dengan swab test.

“Mereka mengira rapid test dan swab itu sama, jadi mereka pada takut. Kita pun saat ini masih terus memberikan pemahaman,” jelasnya.

Sementara itu, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi membenarkan, kabar bahwa sebagian para kiai di Kabupaten Tangerang, tidak memperbolehkan para santrinya untuk mengikuti rapid test.

“Kita masih kebingungan terkait atas masalah itu juga, nanti kita akan kerjasama dengan MUI dan Asda I Kabupaten Tangerang,” pungkasnya.

Berkenaan dengan ini, kata Hendra, Dinkes Kabupaten Tangerang tidak bisa berbuat lebih. Tentu peran pemerintah daerah dengan para camat sebagai ujung tombak akan melakukan upaya persuasif terkait hal itu. Walaupun kegiatan belajar mengajar telah berlangsung, baru sebagian Kiai dan santri di Ponpes yang telah mengikuti rapid test.

“Di kita (Dinkes-red) ada 10 ribu alat rapid test, mungkin 10 ribu lagi nanti akan diusahakan oleh bupati,” ujarnya.

Ia menambahkan, jumlah Ponpes di Kabupaten Tangerang yang terdata ada sekitar 800 ponpes. Namun, kata dia, dari 10 ribu alat rapid test yang digunakan hanya baru sekitar dua ribu dan ini pun pemeriksaan masih terus berlangsung. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here