Home TANGERANG HUB Permudah Pembelajaran, Dewan Buka Pojok Baca

Permudah Pembelajaran, Dewan Buka Pojok Baca

0
SHARE
Permudah Pembelajaran, Dewan Buka Pojok Baca
POJOK BACA: Anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari PKS, Ahmad Syahril (kiri) berfoto bersama dengan anak-anak Pojok Baca Tegal Java yang ada di Kampung Tegal Jawa, Desa Tegal Kunir Lor, Kecamatan Mauk, Rabu (13/8). FOTO: Dok. Pribadi for Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Bendahara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Kabupaten Tangerang, Ahmad Syahril, membuka pojok baca di Kampung Tegal Jawa, Desa Tegal Kunir Lor, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

Pojok baca dimaksudkan membantu pelajar sekolah yang belajar secara online atau daring bisa memahami pelajaran secara efektif. Selain itu, pojok baca ini dimaksudkan meningkatkan minat baca dan tempat bermain yang nyaman bagi anak usia dini.

Syahril menerangkan, ide mendirikan pojok baca merupakan cita-cita sejak masih duduk di bangku pelajar. Menurutnya, kehadiran kemudahan akses informasi melalui smart phone bisa menjemuruskan pada pengetahuan yang belum tentu kebenarannya.

“Jadi anak muda di sini yang sudah familiar gadget perlu diberikan pemahaman dan kita ajak mereka untuk membaca buku. Saya dibantu bersama relawan yang juga pelajar sehingga masih bisa memahami apa yang anak-anak di sini butuhkan ketika membaca buku,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (13/8).

Syahril menerangkan, keberadaan pojok baca dinantikan masyarakat dengan kebijakan pembelajaran di sekolah tidak bisa secara tatap muka atau harus melalui daring. Menurutnya, minat baca pelajar masuk kategori tinggi apabila terdapat pojok baja yang di kelola dengan baik.

“Kita beri nama pojok baca of Tegal Java. Sesuai dengan lokasinya yang berada di kampung tegal jawa. Kita lengkapi buku sebanyak 3 ribu buku dan didominasi buku anak-anak serta pengetahuan. Kita ingin anak-anak betah belajar di sini sekaligus bisa menimba ilmu,” jelasnya

“Buku merupakan jendela dunia. Di saat sekolah ‘ter-lockdown’ dan fasilitas belajar online tidak memadai. Terutama bagi anak didik warga perkampungan, maka diantara solusinya adalah mendekatkan buku-buku kepada para anak didik. Syaratnya dengan pendamping para relawan guru,” lanjutnya.

Syahril menerangkan, pendidikan non-formal juga dibutuhkan peserta didik guna mendapat pengetahuan baru.  “Justru para ulama dan tokoh bangsa lebih terterpa dengan pendidikan non-formal untuk menguatkan pengalaman. Tetap jaga pendidikan agar tetap berkualitas, karena anak didik adalah aset bangsa, generasi masa depan,” pungkasnya. (sep/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here