Home TANGERANG HUB Takut akan Dampak Cairan, Warga Pilih Hindari Bilik Disinfektan

Takut akan Dampak Cairan, Warga Pilih Hindari Bilik Disinfektan

0
SHARE
Takut akan Dampak Cairan, Warga Pilih Hindari Bilik Disinfektan
TAK DIGUNAKAN: Salah satu bilik disinfektan yang sudah tidak dimanfaatkan, Kamis (3/9). FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

TIGARAKSA–Keberadaan bilik disinfektan diabaikan warga. Padahal, satu bilik disinfektan bernilai jutaan rupiah. Namun, warga enggan untuk menggunakannya. Mulai dari takut akan dampak cairan dan tidak berfungsinya bilik tersebut.

Imas (30) warga Kecamatan Jambe mengaku, dirinya enggan menggunakan fasilitas bilik disinfektan yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang karena takut gatal. Meski sudah disediakan di Gedung Usaha Daerah (GUD). Namun ia memilih untuk tidak melewati bilik disinfektan. “Cairannya berbahaya kalau terkena kulit atau mata. Makannnya saya tidak mau masuk. Juga semua orang tidak ada yang melewati bilik. Katanya cairannya kosong jadi tidak dinyalakan,” kata Imas kepada Tangerang Ekspres Kamis, (3/9).

Kepala BPDB Kabupaten Tangerang, Bambang Sapto mengatakan, bilik disinfektan dibutuhkan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Karenanya, setiap akses pintu masuk kantor layanan pemerintah ditempatkan bilik tersebut. Ia menerangkan, setiap warga maupun pegawai pemerintah yang hendak masuk ke dalam area perkantoran diwajibkan melewati bilikn disinfektan. Menurutnya, cairan yang disemprotkan akan membuat virus corona mati sehingga mencegah penyebaran.

“Total kita telah menyalurkan 50 unit bilik sterilisasi ke berbagai perkantoran pemda maupun pasar tradisional. Jumlah tersebut termasuk dua unit yang ada di kantor kami dimana satu unitnya dipakai di depan pintu masuk. Sedangkan, satu unitnya lagi untuk cadangan apabila ada acara atau event pemda,” katanya.

Ketika dikonfirmasi perihal anggaran, ia mengungkapkan, memilih membuat bilik disinfektan secara mandiri dibandingkan membeli. Menurutnya, kebijakan membuat sendiri lebih menghemat anggaran.

“Dana pembuatannya berasal dari BTT. Untuk setiap bilik yang kita buat membutuhkan sebesar Rp9 juta. Sedangkan untuk westafel torn Rp1,5 jutaan per unitnya. Kita buat sendiri karena kalau membeli mahal,” jelas Bambang kepada Tangerang Ekspres melalui pesan WhatsApp, Kamis (3/9).

Berdasarkan penelusuran Tangerang Ekspres, harga jual setiap unit bilik disinfektan sebesar Rp5,8 juta dengan berat 100 kilogram. Harga tersebut yang dipajang di tokopedia.com oleh toko bratzstyle yang beralamat di Surabaya.

“Yang kita buat ada sensor otomatinya. Harga ketika Maret hingga April mencapai Rp18 juta hingga Rp25 juta untuk satu unit,” jelas Bambang.

Disinggung soal keengganan masyarakat menggunakan bilik disinfektan atau sterilisasi, Bambang mengaku diakibatkan kurangnya kesadaran masyarakat dan pegawai. Ia menjelaskan, pentingnya melewati bilik agar tidak membawa virus masuk ke dalam area perkantoran.

Dikatakan Bambang, cairan disinfektan yang murah dan aman bagi makhluk hidup. Yang penting jangan kena mata saja. Di kita cairannya ada, kalau ada opd yang mau silakan berkirim surat.

“Belum sadar saja pentingnya. Sekarang sudah banyakritasi namun jarang. Lebih banyak gunanya dibandingkan kekurangannya untuk pencegahan,” jelasnya. (sep/din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here