Home TANGERANG HUB Kapolresta: Vandalisme di Musala, Luapan Emosi

Kapolresta: Vandalisme di Musala, Luapan Emosi

238
0
SHARE

TIGARAKSA-Kasus vandalisme di Musala Darussalam Perum Villa Tangerang Elok, Kelurahan Kutajaya, Kecamatan Pasarkemis, Kabupaten Tangerang memasuki babak baru. Polisi tengah mendalami motif Satrio melalukan aksi coret tembok, merusak sajadah dan Alquran. Fakta yang ditemukan, tersangka melakan aksi itu di dua lokasi, berjarak 500 meter dari musala pertama. Selain itu, polisi tengah meminta pendapat ahli. Mulai dari psikolog, bahasa dan agama.

Kapolresta Tangerang Kombespol Ade Ary Syam Indradi mengatakan, berdasarkan pengakuan tersangka, aksi tersebut dilakukan karena merasa perbuatannya benar, berdasarkan pemahaman yang biasa ditontonnya dari konten video youtube. “Karena memang sebelumnya, tersangka ini banyak beraktivitas di dalam rumah dan dilarang keluar rumah oleh orang tuanya, jika tidak ada yang menemani. Sehingga meluapkan emosi dengan cara melakukan tindakan yang kemarin (coret-coret musala),” katanya kepada awak media, Sabtu (3/10).

Ade mengatakan, sejauh ini hasil penyelidikan, pelaku melakukan aksi coret-coret musala sekira pukul 13.30 WIB. Ide untuk melakukan hal tersebut didapat tersangka ketika bangun di pagi hari. Kemudian, pada pukul 11.00 WIB pelaku meminta uang jajan kepada orang tuanya Rp50 ribu. Uang tersebut malah dibelikan satu botol cat semprot warna hitam, lakban warna krem, gunting dan korek api.

“Sementara pelaku melakukan aksinya masih sendiri. Belum ditemukan ada yang menyuruh. Sampai dengan saat ini kita belum menemukan ke arah sana (jaringan radikalisme),” papar Ade.

Lanjutnya, hasil pengakuan orang tua dan masyarakat, usai Ramadan lalu pelaku tidak lagi aktif di musala. Lebih banyak diam dan beraktivitas di rumah. Sebelumnya, ia aktif di musala. Menghadapi hal tesebut, kata Ade, orang tua pelaku berusaha dengan melakukan pengobatan dengan metode, hypnoterapi dan konsultasi dengan psikolog. Namun, kedua cara tersebut belum bisa membalikan perilaku seperti sebelum Ramadan.

Ade menegaskan, sampai saat ini penyidik menyimpulkan pelaku melakukan tindakan tersebut secara sadar dan sehat jasmani. Walaupun begitu, kata Ade, keterangan tersangka berubah-ubah saat menjalani pemeriksaan. Awal mula mengaku belajar dari Youtube, tetapi setelah dilakukan tracing terhadap smartphone pelaku ternyata dari riwayat tontonan belum ditemukan petunjuk.

“Berdasarkan fakta berita acara pemeriksaan (BAP) pelaku mengaku tertatik menonton youtube tentang sejarah nabi. Juga tertarik perkembangan sejarah Islam. Faktanya, nama konten dan isinya seperti apa masih kita dalami. Keterangan ahli juga sedang berproses, satu keterangan ahli psikologi sudah kita dapatkan dan masih kita dalami hingga saat ini,” paparnya.

“Tersangka merasa melakukan perbuatan tersebut karena tertekan dilarang keluar rumah oleh orang tuanya. Sehingga tersangka emosi. Dan melampiaskan kekesalan tersangka dengan cara melakukan perbuatan tersebut. Tersangka sadar dan dengan sengaja melakukan perbuatan itu,” ujarnya. Terkait pemeriksaan kejiwaan tersangka, ia menyesali apa yang dilakukan.  Namun sulit untuk mengendalikan emosi. “Apa yang dilakukan merupakan pelampiasan kekesalan terhadap orang-orang di sekitar yang mengucilkan dan menghindarinya. Sejak kelas 3 SMP tersangka mengeluh susah tidur. Ada dorongan untuk melakukan kekerasan dan perkelahian dan ingin mengubah dengan ibadah,” pungkas Ade. (sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here