Home BANTEN Setelah Revitalisasi Banten Lama, Tampilan Berubah tapi Belum Tinggalkan Kebiasaan Lama

Setelah Revitalisasi Banten Lama, Tampilan Berubah tapi Belum Tinggalkan Kebiasaan Lama

0
SHARE
Setelah Revitalisasi Banten Lama Tampilan Berubah, tapi Belum Tinggalkan Kebiasaan Lama
Kawasan Banten Lama sudah direvitaliasi menjadi lebih indah dan menarik. Namun, perilaku warga sekitar belum berubah.

SERANG-Kawasan Banten lama, sudah berubah. Namun, revitalisasi kawasan religi di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang yang berubah baru sebatas tampilan luar. Program yang digagas Pemprov Banten dinilai baru mampu mengubah bentuk fisik (infrastruktur). Dari segi perilaku warga, belum banyak berubah dengan kebiasaan lama.

Masih banyak warga dan pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Padahal di kawasan Banten Lama sudah tersedia banyak tong sampah. Masih banyak pengemis.

Kawasan Banten Lama merupakan peninggalan sejarah abad 16 Masehi. Di tempat ini masih berdiri kokoh Masjid Agung. Pemprov Banten melakukan revitalisasi besar-besaran untuk menyulap kawasan ini menjadi tempat wisata religi. Hasil penelusuran tim Banten Raya, Radar Banten dan Tangerang Ekspres di lokasi, masih ada saja oknum pedagang yang nekat masuk ke lingkungan menara Banten Lama. Meski pemerintah sudah membuat awning dan kios untuk para pedagang berjualan. Namun para pedagang ini sulit ditertibkan.

Malahan akhir-akhir ini, pedagang kaki lima (PKL) mulai menjamur di dekat Taman Keraton Surosowan. Keberadaan PKL ini menjadi pemicu banyaknya sampah berserakan di area taman hingga ke kanal Sukadiri.

Akibatnya kanal menjadi tersumbat lantaran dipenuhi sampah.
Para pedagang ini kebanyakan berjualan kopi seduh, minuman kemasan, mie instan, dan jajanan snack. Meski telah disediakan tempat sampah, sampah masih berserakan di area tersebut dan di kali Sukadiri. Kawasan menjadi terlihat kotor dan kumuh.

Ketua RT 16, RW 06, Lingkungan Sukadiri Hambali mengatakan, sampah non organik yang memenuhi kali berasal dari oknum pedagang dan pembeli yang sembarangan membuang sampah di kali.

“Kebanyakan dari oknum pedagang yang sengaja buang ke kali. Kalau warga sini biasanya dibakar karena udah saya bilangin,” kata Hambali ditemui di kediamannya yang tak jauh dari kanal.
Hampir serupa dikatakan Lurah Kasunyatan Hayumi.

Ia menduga kanal dipenuhi sampah, sejak adanya pedagang kaki lima yang menjamur di kawasan taman. Sehingga mengundang pengunjung untuk berdatangan dan hendak mampir di area taman.

“Jadi sampah itu ditimbulkan dari oknum pedagang. Karena kalau gak ada pedagang, sampah itu gak bakal ada di kali. Terus juga orang-orang yang makan mungkin malam hari dibuang ke kali,” ucap Hayumi.

Ia menyebutkan, sementara ini yang membersihkan sampah melakukan adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setiap akhir pekan. “Cuma mungkin karena sampahnya ada lagi dan ada lagi, jadi malas. Ditambah lagi gak ada kontribusinya ke Pokdarwis. Kayaknya sih jadi malas,” ungkap dia.

Selain mengakibatkan sampah, keberadaan PKL itu juga menimbulkan kemacetan kendaraan.

“Kalau malam Jumat sama malam Minggu itu kadang macet ya. Karena banyak pengunjung yang parkirnya di bahu jalan,” lanjutnya. Hayumi berharap kepada pemerintah daerah untuk menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) yang saat ini mulai menjamur di kawasan taman dekat Keraton Surosowan. Sebab, area taman bukan untuk para PKL.

“Jalan satu-satunya pemerintah harus turun tangan. Tadinya kan gak ada pedagang maka harus tidak ada pedagang lagi. Karena ada pedagang situ banyak sampah. Maka harus ditertibkan oleh Satpol PP supaya kelihatannya rapi,” jelasnya.

Kepala Satpol PP Kota Serang Kusna Ramdani mengaku siap menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut.

Namun sebelum bertindak, ia akan melakukan melakukan peringatan terlebih dahulu, baik secara lisan dan tulisan. Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Satpol PP Provinsi Banten.

“Supaya tidak terjadi salah paham. Karena Banten Lama kan belum diserahkan ke Kota Serang dari provinsi,” ujar Kusna.

Masalah lain di Banten Lama yang juga belum tuntas adalah pengemis atau peminta-minta. Meski sudah direvitalisasi, namun para pengemis ini masih banyak yang berkeliaran. Mereka hanya pindah tempat saja. Saat ini pengemis mangkal di pintu keluar dari area menara Banten Lama.

Kalau dulu, pengemis dapat masuk sampai area makam di kawasan Banten Lama. Keberadaan mereka kerap membuat pengunjung yang ingin berziarah menjadi terganggu. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, baik Pemprov Banten maupun Pemkot Serang untuk bersama-sama mencari jalan keluarnya.

Wahyu, warga Panggungjati, Kecamatan Taktakan, Kota Serang mengeluhkan masih banyaknya pengemis di Banten Lama.
“Malam Jumat kemarin (20/11) saya ziarah, masih banyak pengemisnya. Kadang mereka kayak memaksa,” ujarnya.

Pengunjung asal Mancak, Kabupaten Serang Junedi mengatakan, dari segi tampilan memang Banten Lama banyak mengalami perubahan yang cukup signifikan. Tampilan wisata religi tersebut sudah lebih bagus dan rapi. “Alhamdulillah sekarang Banten Lama sudah lebih rapi dari sebelumnya, suasana lebih aman dan nyaman, dan sejarahnya juga masih ada,” katanya saat diwawancara pekan lalu.

Namun Junedi mengatakan, perubahan fisik yang indah seharusnya dibarengi dengan perubahan perilaku dan budaya masyarakatnya. Sebab, di Banten Lama masih banyak pengemis dan kotak amal yang terkesan memaksa.

“Masih ada kotak amal yang terkesan memaksa, dan belum tahu hasilnya akan diperuntukkan kemana. Seharusnya itu ditata kembali, kalau itu untuk pembangunan dan anak yatim ya bagus. Tapi khawatirnya kebanyakan enggak. Kadang yang jaganya suka ngomong enggak enak, jadi terkesan memaksa,” terangnya.

Selain soal pengemis, Junedi pun mengeluhkan tarif parkir yang dinilai cukup mahal. Untuk kendaraan roda dua (motor) ditarif Rp5 ribu per unit, dan untuk kendaraan roda empat (mobil) Rp 10 ribu per unit. “Kalau parkiran itu untuk uang kas untuk bangunan, kita gak terlalu keberatan, yang penting kendaraan kita aman. Kalau yang minta-minta jumlahnya (masih) banyak. Jadi meski pun infrastruktur bagus tapi budayanya masih jelek, ya percuma,” tuturnya.

Salah seorang juru parkir yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa dirinya tidak memaksa masyarakat untuk membayar parkir. “Tapi masa kita yang menjaga (tidak dikasih). Alakadarnya saja, terserah masyarakat, berapa pun kami terima,” katanya.

Sementara itu, pedagang yang biasa berjualan di kawasan Banten Lama mengeluhkan turunnya omset penjualan. Nasir yang berjualan minuman botol mengatakan bahwa revitalisasi Banten Lama justru membuat penjualannya semakin menurun.

Sebelum direvitalisasi, dia bisa menghasilkan omset Rp300 ribu dalam sehari. Namun kini setelah ada revitalisasi, bisa mendapatkan Rp50 ribu saja Nasir sudah bersyukur. “Sekarang kan kita tidak boleh jualan di dalam, hanya di taman-taman saja. Terus sekarang keadaannya lebih panas dibanding sebelum direvitalisasi,” jelas Nasir.

Penurunan omset berjualan juga dikeluhkan Siti, pedagang asongan yang biasa mangkal di sekitar Taman Keraton Surosowan Banten Lama.

Siti mengaku hanya mengandalkan kebutuhan rumah tangganya dari hasil berdagang. Namun belakangan ini penghasilan dari jualan semakin menurun. Bukan hanya karena dampak revitalisasi Banten Lama saja, melainkan juga karena adanya pandemi Covid-19.

“Kalau dulu pengunjung ramai dan banyak yang beli minum atau kopi di sini, tapi sekarang pengunjung ramai tapi tidak ada yang beli. Apalagi Covid-19 makin susah saja. Jadi pedagang sekarang tidak bisa masuk, hanya di luar saja kayak gini nunggu yang beli,” katanya.

Siti yang berasal dari Unyur, Kecamatan Serang, terus mengalami penurunan pendapatan. Namun dirinya terus berjualan untuk menghidupi diri dan keluarganya di rumah, meski sering kali dilarang.

“Jualan hari ini saja cuma kopi dua bungkus yang sudah kejual. Padahal sudah dari pagi jualan. Kami juga kadang suka diminta untuk tidak jualan dulu kalau ada pejabat yang mau datang, katanya biar terlihat bersih, tapi kalau kami di sini juga selalu bersih-bersih,” terangnya.

Diwawancara di lokasi terpisah, Ketua Tim Penataan Kawasan Banten Lama sekaligus Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy mengatakan, proses penataan Banten Lama pada tahun 2020 tersendat akibat terdampak pandemi Covid-19. Penataan akan kembali dilakukan pada tahun 2021. “Nanti 2021 ada beberapa target pembangunan yang sudah dimasukkan ke RKPD (rencana kerja pemerintah daerah),” katanya.

Menurut Andika, penataan Kawasan Banten Lama sejak 2017 secara bertahap terus berjalan. Terutama penataan pada kawasan inti. Tahun 2021, Pemprov Banten akan fokus memaksimalkan fasilitas penunjang di sekitar lingkungannya.

“Tahun 2021 mau dibangun fasilitas penunjangnya, seperti Baitul Quran, pusat oleh-oleh yang diproduksi UMKM dan penataan kanal,” terangnya.

Baitul Quran, kata Andika, akan menjadi pusat kajian Alquran di Provinsi Banten. Sedangkan, pembangunan pusat oleh-oleh khas Banten dapat dimanfaatkan para pengusaha UMKM untuk mempromosikan dan menjual produknya. “Penataan ini dilakukan bertahap,” katanya.

Andika mengakui proses penataan ke depan tidak hanya memfokuskan pada penataan secara fisik. Tapi, mendorong perubahan perilaku dan budaya masyarakat agar ikut terlibat dalam merawat salah satu kawasan peninggalan sejarah.

“Secara bertahap kita berharap masyarakat ikut terlibat menjaga, karena keberadaannya memberikan banyak investasi baik spiritual, maupun dampak perekonomian masyarakat sekitar. Pemahaman sadar wisata, kami sudah menurunkan Pokdarwis. Sebagaimana tujuan kita mewujudkan wisata religi,” ujar Andika.

Andika memaparkan, Kawasan Banten Lama ke depan mampu menjadi ikon utama provinsi Banten. Sehingga, ke depan pengelolaannya akan dikelola oleh badan khusus yang ditetapkan bersama antara Pemprov Banten, Pemkot Serang dan Kenadziran Banten.

“Proses pembangunannya kita selesaikan dulu, baru setelah itu kita bentuk badan pengelola,” jelasnya.

Andika tak menampik jika dalam proses penataan masih ditemukan beberapa kesalahpahaman atau miskomunikasi antara perwakilan pemerintah dan masyarakat sekitar. Seperti soal pengelolaan kawasan, penataan parkir, dan lain sebagainya. Andika berjanji kondisi seperti ini akan terus diperbaiki.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Serang Mochammad Ridwan mengatakan, dalam program revitalisasi kawasan Banten Lama, berfokus pada penataan dan pembangunan Kawasan Penunjang Wisata (KPW) Banten Lama. Salah satunya adalah pembangunan terminal baru yang akan menggantikan terminal lama di Sukadiri.

DPUPR Kota Serang saat ini tengah membangun pedestrian jalan dengan menggunakan batu andesit sampai dengan bundaran kedua terminal baru tersebut. Sebelumnya DPUPR Kota Serang membangun terminal KPW Banten Lama sebagai akses masuk kendaraan yang akan datang ke kawasan Banten Lama.

“Pemerintah Kota Serang fokus pembangunan di kawasan penunjang wisata, sementara Pemerintah Provinsi Banten fokus merevitalisasi zona inti kawasan Banten Lama,” ujar Ridwan.
Menurutnya, yang sudah DPUPR Kota Serang lakukan saat ini adalah pembangunan gerbang terminal, jalan di kiri dan kanan, pedestrian antar ruko, musola, dan saat ini pedestrian di bagian dalam.

Tahun 2021 bila Pemprov Banten memberikan bantuan provinsi, maka pihaknya akan membangun pengecoran jalan lingkar di daerah tersebut.

Dengan kondisi yang sudah ada saat ini, kata Ridwan, sebetulnya kios atau ruko yang ada di terminal baru sudah dapat difungsikan oleh Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi Kota Serang. Apalagi, toilet, air, dan listrik juga sudah tersedia. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here