Home TANGERANG HUB Cegah DBD, Camat Koordinasi dengan RT dan RW

Cegah DBD, Camat Koordinasi dengan RT dan RW

0
SHARE
RAPAT KOORDINASI: Camat Rajeg, Kabupaten Tangerang Patoni, saat memberikan pemaparan bahaya DBD kepada para RT dan RW se-Kecamatan Rajeg, kemarin. FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

RAJEG – Tingginya penderita demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Tangerang membuat Camat Rajeg, Ahmad Patoni mewaspadainya. Dengan merangkul Unit Pelayanan Teknis (UPT) Puskesmas Rajeg dan UPT Puskesmas Sukatani, mereka menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) dengan mengundang Ketua RT dan RW di Aula Kantor Desa Mekarsari, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Selasa (11/6).

Ditemui usai acara, Camat Rajeg, Patoni mengatakan, rakor ini untuk meningkatkan koordinasi dengan pengurus RT dan RW untuk memperlancar tugas para juru pemantau jentik (jumantik). Para Jumantik kerap mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas di rumah warga. Padahal tugas tersebut justru membawa kebaikan, baik bagi pemilik maupun warga sekitar.

Kata Patoni, dari data yang dimiliki dirinya, sebanyak 423 penderita DBD, dan dua penderita penderita DBD meninggal dunia pada periode Januari sampai Juni 2019, di Kabupaten Tangerang. Diantaranya, sebanyak 5 kasus DBD di Kecamatan Rajeg.

Untuk itu, lanjut Patoni, pihakya juga akan segera melakukan pengasapan atau biasa disebut fogging ke tempat yang terdapat kasus DBD. Sebab, fogging dianggap cara terakhir memberantas nyamuk aedes aegypti.

Sebenarnya, dikatakan Patoni, fogging bukan cara terbaik memberantas nyamuk, sebab ada efek samping bagi pernapasan. Dengan begitu, dia mengajak masyarakat menggalakan program PSN 3M Plus, sebagai upaya pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

Patoni mejelaskan, PSN 3M Plus adalah aksi pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M Plus yaitu, menguras bak air, menutup bak air, memanfaatkan barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Ditambah, menaburkan bubuk larvasida ke dalam penampungan air.

“Dalam kesempatan ini juga, kami memberikan bubuk abate (larvasida) secara simbolis kepada  peserta rakor. Nanti, pihak UPT Puskesmas akan kembali mendistribusikan obat itu sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Patoni.

Di tempat yang sama, Pri Helga Ismiati mengaku UPT Puskesmas Rajeg maupun UPT Puskesmas Sukatani rutin melakukan sosialisasi soal penyakit DBD ke desa ataupun kelurahan. “Kali ini, kami juga membagikan bubuk abate ke setiap RW di Desa Mekarsari,” ujarnya.

Menurut perempuan yang akrab disapa Helga, kalau pengasapan hanya disemprotkan ke tempat yang ada DBD saja. Ia menjelaskan, terdapat lima kasus DBD di Kecamatan Rajeg pada periode Januari sampai Juni 2019 ini. “Tapi, itupun para penderita sudah sembuh semua,” ujarnya.

Ditanya soal isu seorang balita meninggal dunia akibat DBD di Desa Mekarsari, Helga menyebutkan, dia masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, jadi dia belum bisa menjawab pasien itu positif atau negatif meninggal karena DBD.

Di tempat terpisah, saat dikonfirmasi Tangerang Ekspres, dr Hendra Tarmizi MARS, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Tangerang mengatakan, dari hasil penyelidikan bahwa, pasien tidak pernah berobat ke Puskesmas Rajeg seperti yang diberitakan beberapa media online.

“Sebab, pasien dibawa berobatnya ke beberapa klinik saja. Kemudian, karena tidak ada perubahan (kondisi kesehatan-red), maka dibawa ke rumah sakit swasta di Kuta Bumi, setelah sehari pasien kejang-kejang. Tak lama kemudian, pasien meninggal dunia,” tutur Tarmizi.

Menindaklanjuti itu, kata Tarmizi, UPT Puskesmas Rajeg melakukan penyelidikan jentik nyamuk di area rumah pasien. Diketahui, kata Tarmizi, hasil penyelidikan negatif atau tidak ada jentik nyamuk aedes aegypti di lingkungan rumah pasien.

“Secara pasti gak bisa kami sebutkan pasien meninggal akibat DBD atau tidak. Tapi, dari hasil laboratorium, ada penurunan trombosit seperti DBD,” jelasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here