Home TANGERANG HUB Kereta Tanpa Masinis Meluncur Agustus

Kereta Tanpa Masinis Meluncur Agustus

0
SHARE

TANGERANG–Tak lama lagi, bandara internasional Indonesia akan setingkat dengan bandara internasional negara tetangga, Singapura, melalui pengoperasian skytrain atau automated people mover system (APMS) di Bandara Soekarno Hatta. PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II memastikan pengoperasian skytrain bisa dilakukan pada Agustus nanti. Saat ini satu trainset dengan dua gerbong berkapasitas 176 penumpang sudah dipasang di area Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Nantinya, fasilitas moda transportasi ini akan menjadi sarana akomodasi bagi para penumpang dari terminal 2 menuju terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, atau sebaliknya. Dan jika sudah beroperasi penuh, skytrain juga akan bisa menjangkau penumpang dari terminal 1 sampai terminal 3 bandara.
Tak berbeda jauh dengan Singapura, skytrain yang akan dioperasikan di Bandara Soekarno-Hatta ini pun kurang lebih memiliki sistem yang sama, yakni sama-sama berteknologi automated guideway transit (AGT) atau yang memungkinkan kereta berjalan tanpa masinis.

Namun bedanya, saat pengoperasian fase pertama skytrain di Bandara Soetta masih memerlukan masinis, karena masih dalam tahap penyesuaian. Pasalnya bagi Indonesia, skytrain Bandara Soetta merupakan kereta tanpa awak pertama yang dioperasikan. “Karena di Indonesia, (skytrain) ini kereta tanpa awak pertama kali,” ungkap Manager Publik Relation PT Angkasa Pura II Yado Yarismano, seperti diberitakan detikcom, akhir pekan kemarin.
Sementara itu perbedaan lain, skytrain di Bandara Changi Singapura, berlokasi di dalam area penumpang. Sementara skytrain di Bandara Soetta berada di ruang publik, sehingga tak hanya penumpang, pengunjung pun bisa menikmati fasilitas yang sama.
“Kalau skytrain Bandara Soekarno-Hatta, posisinya masih di area publik. Kalau di Bandara Changi itu di dalam, khusus untuk penumpang,” ujarnya. Sedangkan secara fisik kereta sendiri, kedua skytrain relatif cukup sama, dengan jumlah setiap rangkaian terdiri dari dua gerbong kereta, di mana masing-masing gerbong dilengkapi dengan pendingin udara (AC).  Menurut Yado, pihaknya telah menganggarkan dana hingga Rp 950 miliar untuk proyek skytrain Bandara Soetta, yang seluruhnya bersumber dari kas perusahaan sendiri.
“Nilai proyeknya sendiri hampir Rp 1 triliun atau tepatnya Rp 950 miliar. Itu dari dana AP II sendiri yang bangun,” ungkap Yado. Untuk pengadaan rangkaian kereta skytrain serta teknologinya, AP II setidaknya merogoh kocek hingga Rp 530 miliar. Biaya tersebut sudah termasuk tiga rangkaian kereta yang didatangkan dari perusahaan asal Korea Selatan, Woojin Industrial System Co Ltd.
Sementara itu, untuk pengadaan infrastruktur seperti lintasan dan terminal yang dikerjakan oleh PT Wijaya Karya Tbk dan PT Indulexco, Yado mengaku AP II harus mengeluarkan dana hingga Rp 420 miliar.
“Rinciannya itu, (pengadaan) trainset Rp 530 miliar, jalur dan terminal Rp 420 miliar. Itu semua untuk 3 train set beserta infrastrukturnya,” ujarnya.  Skytrain sendiri berfungsi sebagai pilihan tambahan bagi penumpang yang ingin melakukan mobilisasi antarterminal di Bandara-Soekarno Hatta, yang sebelumnya hanya difasilitasi oleh shuttle bus. Yado mengatakan, meski nantinya skytrain sudah beroperasi, pihaknya masih akan tetap mengoperasikan shuttle bus bandara. “Untuk sementara akan begerak berdampingan. Skytrain ada, shuttle bus juga ada. Penumpang bisa pilih, pakai shuttle bus atau skytrain,” ujarnya.
Seperti diketahui, Angkasa Pura II selama ini mengoperasikan 12 unit shuttle bus dengan kapasitas masing-masing bus 20-25 orang untuk setiap perjalanan. Shuttle bus tersebut digunakan untuk memfasilitasi para penumpang dari satu terminal ke terminal lain. Namun, untuk kebijakan selanjutnya apakah pengoperasian shuttle bus dilanjutkan atau tidak, Yado mengaku masih akan menunggu keputusan manajemen bandara. “Ke depan kami masih akan menunggu keputusan manajemen soal shuttle bus ini,” ujarnya.  Menurutnya ujicoba dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Perkeretaapian. Selama uji coba yang akan berlangsung dalam 2 minggu, skytrain masih akan diuji coba menggunakan masinis.
“Ujicoba di verifikasi dari Ditjen kereta api. Lama uji coba 1-2 minggu dan masih pakai masinis, masih disupirin. Nanti driverlessnya kalau sudah full operation,” terangnya. Dalam ujicoba tersebut, akan ada sejumlah pengetesan yang meliputi uji infrastruktur lintasan, uji rangkaian kereta serta Standar Operasional Prosedur (SOP) guna mengetahui seberapa aman skytrain saat dioperasikan. “Terkait rangkaian keretanya sendiri, SOP keamanan dan keselematannya. Kalau terjadi apa-apa bagaimana penanggulangannya. Terkait infrastrukturnya (lintasannya) juga diujicoba dilewati keretanya,” ujar Yado.
Pengoperasian Skytrain ditujukan untuk memfasilitasi seluruh terminal di Bandara Soekarno-Hatta dengan total panjang lintasan 3,1 km yang diprediksi akan rampung tahun 2017. Namun untuk rencana pengoperasian tahap pertama, skytrain lebih dulu akan menjangkau Terminal 2 menuju Terminal 3 atau sebaliknya, dengan panjang lintasan sekitar 1,8 km.  Sekretaris Perusahaan AP II Agus Haryadi, mengungkapkan ujicoba dan pengoperasian skytrain tahap awal masih menggunakan masinis. Sementara untuk operasi penuh dengan 2 skytrain yang menghubungkan terminal 2 dan terminal 3 bisa dilakukan pada Oktober 2017.
“Posisi sekarang sudah satu trainset, Agustus ini kita coba. Karena belum full operasinya maka belum bisa driveless alias masih pakai masinis. Oktober baru bisa operasi penuh yang bersamaan dengan pengoperasian penuh terminal 3 dengan pindahnya semua penerbangan internasional,” jelas Agus. Menurut dia, skytrain akan menghubungkan 3 terminal yang ada di Bandara Soetta plus stasiun kereta bandara yang berada di sisi barat. Namun lantaran proyek kereta bandara penyelesaiannya tertunda, skytrain baru dioperasikan untuk penghubung terminal 2 dan terminal 3.
“Di milestone rutenya dari terminal 2 ke terminal 3, baru ke terminal 1. Dari terminal 1 ke stasiun kereta ekspres bandara. Waktu tempuh dari masing-masing ke terminal sekitar 2 menit.

Kita maunya semua terminal terhubung, tapi ternyata ada kendala di kereta bandara. Kalau stasiun di dalam bandara sudah siap,” ujar Agus. Diungkapkannya, skytrain tersebut juga dibangun untuk mengangkut penumpang yang menggunakan parkir inap yang dibangun di dekat stasiun kereta bandara. Konsep jalur skytrain yang berada di luar, membuatnya bisa dinaiki tak hanya penumpang bertiket, tapi juga semua pengunjung bandara. “Kalau yang naik kereta sudah pasti tak bawa mobil. Tapi untuk yang bawa mobil bisa parkir kendaraannya dekat dengan stasiun kereta bandara. Kemudian naik skytrain menuju terminal tujuan,” pungkasnya. (det/bha)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here