Home BISNIS Dolar ‘Ngamuk’, Target Tak Diubah

Dolar ‘Ngamuk’, Target Tak Diubah

0
SHARE
UANG BARU: Beberapa ikat uang kertas baru pecahan Rp 5 ribu dan Rp 2 ribu jadi incaran para penukar uang menjelang Lebaran, kemarin. FOTO: Dok. Miladi/Tangerang Ekspres

JAKARTA-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah masih tetap memasang angka asumsi pertumbuhan ekonomi di 2019 sebesar 5,3%.

Sri Mulyani menjelaskan, asumsi dasar pertumbuhan ekonomi di level 5,3% merupakan angka yang realistis mengingat masih adanya sentimen dari eksternal kepada negara berkembang. “5,3% masih realistis,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, seperti diberitakan detik.com, Kamis (13/9).

Dia menceritakan, realistis yang dimaksud karena postur APBN tahun anggaran 2019 berbeda dengan tahun 2014-2015 yang terdampak penurunan harga komoditas. “2014-2015 terlihat ekspor pertumbuhan negatif dan harga komoditas drop pengaruhi penerimaan negara,” jelas dia.

Namun, pada 2016 terjadi momentum pemulihan sektor investasi dan ekspor yang memberikan dampak kepada pertumbuhan, sehingga target 5,3% masih realistis bisa dikejar pemerintah di 2019.

“Ekspor impor akan lebih balance, dengan impor lebih menurun dan eskpor lebih tinggi dari 2018. Menyebabkan 5,3% tahun 2019 masih realistis,” tutup dia.

Dengan angka itu maka, target pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 tetap sebesar 5,3% atau sesuai dengan yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada nota keuangan. Target pertumbuhan ini tidak diubah meski saat ini tantangan dari global terus menekan kurs mata uang rupiah.

Sri Mulyani menceritakan, tantangan perekonomian Indonesia dan negara berembang lainnya masih didominasi dari eksternal, yakni perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, kebijakan normalisasi moneter AS mulai dari kenaikan suku bunga dan pengembalian arus modal keluar dari negara berkembang.

“Untuk 2019, kami masih menggunakan growth 5,3%,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (10/9).

Komposisi pertumbuhan ekonomi tersebut, kata Sri Mulyani akan ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga di level 5,1%, konsumsi pemerintah 5,4%, investasi di level 7%, ekspor 6,3%, dan impor 7,1%.

“Ini nggak berubah dari nota keuangan, karena untuk menghadapi down size risk,” jelas dia.

Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,3% di 2019 juga tidak beda jauh dengan ramalan dari lembaga internasional.

Seperti Bank Dunia yang memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,2%, OECD sebesar 5,3%, IDB sebesar 5,3%, dan IMF sebesar 5,4%. “Mereka akan melakukan update forecast dengan berbagai yang kami sampaikan,” tutup dia. (dtk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here