Home TANGERANG HUB Republik Madagaskar Pamer Tari di Balai Kota

Republik Madagaskar Pamer Tari di Balai Kota

0
SHARE
UNJUK GIGI: Sejumlah delegasi Madagaskar membawakan tarian tradisional saat berkunjung ke Balaikota Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, Serua, Ciputat, Selasa (23/10). FOTO: Miladi Ahmad/Tangerang Ekspres

CIPUTAT-Pemkot Tangsel mendapat kunjungan dari Republik Madagaskar, Afrika, tepatnya dari Kota Ivato. Delegasi Ivato dipimpin oleh Randrianarisoa Hoby yang juga istri dari Walikota Ivato. Rombongan diterima Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie di Balai Kota, Selasa (23/10).

Dalam sambutannya, Randrianarisoa Hoby mengatakan, datang ke Kota Tangsel ingin belajar dan melihat bagaimana mengolah barang bekas menjadi barang bermanfaat yang dilakukan oleh UKM. “Di Madagaskar 80 persen sampah yang dihasilkan adalah sampah plastik,” ujarnya, Selasa (23/10).

Randrianarisoa Hoby menambahkan, di negaranya plastik belum dimanfaatkan dengan maksimal. Ia mencontohkan, sampat plastik dijadikan tas oleh UKM, sedangkan sampah telah dipisahkan antara jenis organik dan nonorganik yang dijadikan pupuk organik.

Di Tangsel ia melihat barang bekas telah disulap menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai. “Saya berharap Pemkot Tangsel bisa membantu pelatihan warga saya di Madagaskar, khusunya di Kota Ivato,” tambahnya.

Selain itu, rombongan juga ingin melihat produk-produk yang dihasilkan UKM, sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarga. “Mudah-mudahan ke depan kita bisa saling kerja sama dalam pemasaran produk UKM,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, merasa terhormat dengan kedatangan Delegasi dari Madagaskar melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di Balai Kota.

“Selain itu pertemuan ini menjadi jembatan silaturahmi dan kerjasama yang terjalin antara Kedutaan Besar RI Antananarivo dan Pemkot Tangsel,” tambahnya.

Benyamin Davnie menambahkan, kunjungan tersebut tentu membawa dampak positif. Di Tangsel banyak hasil kerajinan tangan dan unggulan. Ia yakin banyak hal yang bisa dicontoh dari Madagaskar dan sebaliknya. “Jangan dilihat jumlahnya sedikit tapi, ini kerjasama antar negara,” tambahnya.

Benyamin menambahkan, yang harus diperhatikan ke depan adalah bagaimana jika ada permintaan barang dalam jumlah besar dari Tangsel ke Madagaskar. “Yang menjadi pekerjaan kita adalah tinggal produk apa yang ingin Madagaskar minati,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel Maya Mardiana mengatakan, kunjungan tersebut sebagai wadah berbagi pengalaman. Mereka tertarik datang ke Tangsel karena memiliki tipikal yang hampir sama dan warga masih di bawah garis kemiskinan.

“Intinya mereka ingin tahu bagaimana walikota bisa memberdayaakan masyarakat yang produktif dan masyarakat ekonomi kreatif bisa berjalan,” tambahnya.

Maya menambahkan, mereka juga tertarik pemberdayaan wanita, dimana wanita bisa menghasilkan sesuatu secara mandiri tanpa harus kerja.

Menurutnya, mereka menantang kita untuk melatih atau menjadi motivator ilmu kepada masyarakat Madagskar dan mudah-mudahan bisa difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri atau Kedutaan Besar.

“Mudah-mudahan dari kunjungan ini ada kerja sama secara bisnis yang bisa dihasilkan. Banyak industri kreatif, seperti kraf yang kita hasilkan dilirik mereka,” tambahnya.

Menurutnya, rombongan ingin belajar tentang daur ulang dan khususnya pengolahan sampah. Tangsel memiliki produk sampah yang ditingkatkan menjadi produk yang dibina DPMP3AKB dan Dinas Lingkungan Hidup di Keluarah Bambu Apus Pamulang.

Ada beberapa industri yang bisa dikerjasamakan, contohnya adalah limbah plastik yang dijadikan untuk bahan pengganti bahan pintu plastik (furniture). “Rombongan tertarik dan minta produk kraft, furniture, makanan sehat dan lainnya,” jelasnya.

Pantauan Tangerang Ekspres di lokasi kunjungan di Balai Kota, Randrianarisoa Hoby bersama dua rekannya sempat membawakan tarian tradisional dari Madagaskar. Tarian tersebut menggambarkan kebahagiaan, dan menjadi orang Madagaskar. Tarian tersebut biasa dipakai dalam acara khitanan atau pernikahan dan dipakai semua suku yang ada di Madagaskar.

Rombongan selanjutnya dibawa ke bank sampah Oscar yang ada di Bambu Apus Pamulang. Rombongan ingin melihat bagiamana warga menangani sampah serta menjaga kebersihan lingkungan. (bud/esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here