Home NASIONAL Jokowi Ungkap Politik Sontoloyo

Jokowi Ungkap Politik Sontoloyo

0
SHARE
SELFIE: Calon Presiden nomor urut 1 Joko Widodo menyapa dan berswafoto bersama simpatisan partai Nasdem di JX Expo, Surabaya, kemarin (28/10). FOTO: Hanung Hambara/Jawa Pos

SURABAYA – Setelah cukup lama menjadi pertanyaan publik, capres Joko Widodo (Jokowi) membeberkan istilah politik sontoloyo yang diungkapkan sebelumnya. Menurut capres nomor urut 1 itu, politik sontoloyo adalah berbagai informasi negatif yang mengarah kepada dirinya, tapi disebut tak sesuai dengan fakta.

Penjelasan itu dipaparkan Jokowi saat hadir dalam Apel Siaga Pemenangan Partai Nasdem di JX International Expo, Surabaya, kemarin (28/10).

Sejak kata sontoloyo diucapkan oleh Jokowi, menjadi viral di media sosial. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti sontoloyo adalah konyol, tidak beres, bodoh. Sontoloyo biasa digunakan sebagai makian.

Namun, sejatinya, sontoloyo berasal dari bahasa Jawa. Maknanya berbeda dengan KBBI. Di Wikipedia, sontoloyo adalah sebutan penggembala itik atau bebek.

Menurut Jokowi, cukup informasi tentang dirinya yang tidak relevan dan tidak sesuai dengan fakta. Salah satunya adalah isu soal antek asing.

Menepis isu itu, dia menceritakan bahwa sejumlah blok migas yang sebelumnya dikelola negara asing kini dikuasai Indonesia. Contohnya blok Chevron. Kini blok tersebut 100 persen dikelola pemerintah. Juga soal penguasaan Freeport oleh Indonesia yang naik signifikan. ’’Pertanyaannya, antek asingnya di mana?’’ katanya.

Isu lain yang dianggap sebagai politik sontoloyo oleh Jokowi adalah informasi tentang banjir tenaga kerja asal Tiongkok yang masuk ke Indonesia. Jumlahnya 10 juta.

Versi Jokowi, pemerintah telah bekerja sama dengan Tiongkok untuk masuknya 10 ribu wisatawan asal Negeri Tirai Bambu ke Indonesia. ’’Justru tenaga kerja Indonesia di sana sudah 80 ribu. Jangan dibalik-balik kita yang antek asing,’’ ujarnya.

Mantan wali kota Solo itu juga membahas isu dirinya sebagai antek komunis. ’’Saya lahir tahun 1961. Gerakan 30/S PKI tahun 1965. Mana ada PKI balita?’’ katanya. Itulah yang disebut sebagai politik sontoloyo.

Di hadapan kader Nasdem, Jokowi menyebut aset Indonesia adalah persatuan dan persaudaraan. Aset itu sangat penting untuk dijaga. Jokowi juga mengingatkan masih ada problem banyaknya aturan di Indonesia yang membuat upaya perubahan menjadi lambat. Ke depan, problem semacam itu harus diatasi bersama.

Saat menghadiri apel siaga Partai Nasdem, Jokowi tampak tampil santai. Dia mengenakan T-shirt lengan panjang cokelat tua bertulisan logo pagar plus nomor urut pencalonannya. Di sana, dia didampingi Ketum Partai Nasdem Surya Paloh dan jajaran pengurus.

Apel siaga itu diikuti 9.328 kader dan pengurus Nasdem yang tersebar di seluruh wilayah Jatim. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here