Home BISNIS Kinerja Sektor Kelapa Sawit Terus Dijaga

Kinerja Sektor Kelapa Sawit Terus Dijaga

0
SHARE
MELIMPAH: Produksi kelapa sawit melimpah. Melimpahnya bahan baku minyak kelapa sawit ini diyakini mencukupi untuk pelaksanaan kebijakan mandatori B20. FOTO: Ilustrasi

JAKARTA – Pemerintah akan terus menjaga kinerja sektor kelapa sawit yang mulai membaik supaya menciptakan daya tawar dalam jangka panjang, baik di pasar nasional maupun global.

“Kelapa sawit menjadi sangat penting bagi pemerintah karena mampu menghasilkan devisa, mengembangkan komoditas dengan keunggulan komparatif, dan berkontribusi positif terhadap pendidikan dan kesehatan, sehingga sektor ini memiliki peran penting dalam pencapaian Sustainable Development Goals [SDGs] 2015-2030,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melalui keterangan resmi yang dikutip bisnisindonesia.com, Kamis (1/11).

Peningkatan kinerja sektor kelapa sawit sendiri terlihat sejak 2014. Sesuai data Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), elastisitas produksi kelapa sawit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 2,46 persen. Artinya, setiap kenaikan 1 persen produksi kelapa sawit baik secara langsung dan tidak langsung akan mampu memberikan efek multiplier ke sektor terkait dan meningkatkan 2,46 persen dari total pendapatan nasional. Adapun, sektor ini juga mencatat kinerja terbaik melalui peningkatan ekspor 2017 yang mencapai 25,73 persen menjadi Rp 307 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Darmin menegaskan, sektor ini terus didorong agar sejalan dengan prinsip berkelanjutan dan berkontribusi dalam pencapaian SDGs 2015-2030 yang digunakan sebagai panduan bagi negara maju dan berkembang dalam mengimplementasikan ekonomi berkelanjutan.

Sejak 2011, pemerintah juga telah mendorong industri sawit agar mengedepankan prinsip berkelanjutan melalui sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan, yang lebih dikenal dengan istilah Indonesian Suistanable Palm Oil (ISPO). Tujuannya untuk memperkenalkan pengelolaan yang lestari pada industri kelapa sawit, sehingga dapat menjaga manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara jangka panjang.

Saat ini, pemerintah sedang mempertimbangkan penguatan ISPO dengan meningkatkan adopsi nilai-nilai SDGs 2015-2030 di dalam prinsip dan kriteria ISPO. Adapun, prinsip dan kriteria ISPO yang saat ini dimiliki telah sejalan dengan 12 dari 17 tujuan dari SDGs 2015-2030, khususnya pertumbuhan inklusif dan pengentasan kemiskinan. Masih banyak ruang untuk meningkatkan adopsi nilai-nilai SDGs 2015-2030 ke dalam prinsip dan indikator ISPO ke depan.

“Yang saya tekankan, keberlanjutan menjadi kata kunci yang harus dilaksanakan pada pengembangan sektor kelapa sawit,” tegas Darmin.

Cukup Buat B20
Di tempat terpisah, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) optimis bahan baku minyak kelapa sawit untuk pelaksanaan kebijakan mandatori B20 bakal mencukupi. Optimisme ini bukan isapan jempol mengingat produksi minyak sawit diperkirakan mencapai 42 juta ton pada tahun ini.

Ketua GAPKI Joko Supriyono mengatakan, produksi minyak sawit nasional pada tahun ini bisa mencapai 42 juta ton. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 30 juta ton yang akan diekspor.

“Kalau melihat besarnya produksi minyak sawit ini, program mandatori biodiesel B20 tidak akan pernah mengalami kesulitan bahan baku,” ujarnya di Nusa Dua, Bali, Rabu (31/10).

Joko menilai kebijakan mandatori B20 akan membantu negara menekan impor minyak dan defisit neraca perdagangan. Kebijakan ini juga mampu mengangkat harga CPO di pasar global dan solusi penyerapan stok di tengah melambatnya permintaan ekspor minyak sawit.

“Ini akan membantu mengurangi defisit neraca perdagangan dan tentu saja akan mengurangi dampak fluktuasi nilai tukar rupiah,” jelas dia.

Menurut data Kementerian ESDM, kebutuhan pasokan minyak sawit dalam bentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME) untuk campuran solar pada kebijakan B20 pada tahun ini mencapai 3,92 juta KL. Namun, penyalurannya hingga 24 Oktober 2018 baru 2,42 juta KL atau sekitar 60 persen target.

Presiden Joko Widodo dalam arahannya saat membuka konferensi internasional minyak sawit (IPOC) 2018 pada Senin (29/1) mengakui pelaksanaan mandatori B20 masih belum berjalan secepat yang diharapkan.

Jokowi menyebut implementasi mandatori B20 merupakan salah satu langkah untuk mengembangkan industri sawit. Jika mandatori B20 berjalan, ia optimistis harga sawit atau CPO di pasar global juga bakal terdongkrak.(BI/CNN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here