Home TANGERANG HUB Belajar Sejarah dengan Dongeng

Belajar Sejarah dengan Dongeng

0
SHARE
AKSI TEATRIKAL: Peserta lomba mendongeng unjuk kebolehan dalam menceritakan sejarah di Kota Tangsel. FOTO: Tri Budi/Tangerang Ekspres

SERPONG-Sebagai upaya mengenang sejarah dan menumbuhkan minat baca, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel mengadakan lomba mendongeng kesejarahaan. Peserta di lomba ini adalah, guru dan siswa tingkat SMP Kota Tangsel di Restoran Saepisan BSD, Serpong, (27/11).

Kepala Dindikbud Kota Tangsel Taryono mengatakan, lomba mendongeng diikuti 50 tim dan masing-masing tim terdiri dari satu guru dan dua siswa.

“Lomba dongeng untuk menumbuhkan kegemaran membaca dan kecintaan terhadap budaya lokal dalam upya membangun pendidikan karakter dan pekerti bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai kearifan lokal,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Selasa (27/11).

Taryono menambahkan, ada empat tema yang disiapkan panitia dan satu tema bisa dipilih peserta yakni, makam pahlawan Daan Mogot di Serpong, makam Kramat Tajug, Situ Gintung dan sejarah cerita rakyat Serpong.

“Kita ingin melestarikan kebudayaan, tidak mungkin jaman sekarang langsung ada tapi, pasti ada masa lalu. Jadi generasi sekarang harus mengetahui sejarah masa lalu,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dindikbud Kota Tangsel Is Nur Asih mengatakan, lomba mendongeng resejarawan guru dan siwa tingkat SMP tersebut untuk mengenang masa lalu yang ada di Tangsel. “Sebelum lomba dongeng dilakukan, peserta sudah kita ajak melakukan lawatan sejarah dibeberapa lokasi sejarah di Tangsel,” ujarnya.

Iis menambahkan, lomba melibatkan guru dan murid dengan cara dongeng yang menggunakan alat peraga. Latar belakang lomba dogeng lantaran saat ini generasi muda banyak yang suka memaikan gadget dari pada membaca buku dan terutama sejarah.

“Anak sekolah perlu diberikan wawasan sejarah Tangsel melalui dongeng. Lomba ini untuk mendongengkan atau menceritakans sejarah tentang empat tema tersebut. Kita orang timur dan wajib menghargai sejarah dan ini jadi muatan lokal,” tambahnya.

Masih menurutnya, peserta bisa berapresiasi saat lomba dengan apa yang telah dikunjungi saat lawatan sejarah. “Guru dan siswa harus bisa berkolaborasi dan mendongeng dengan baik dan menceritakan sejarah dengan cara yang menarik agar tidak membosan untuk dilihat dan didengar,” ungkapnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here