Home PENDIDIKAN Siswa SMP Petra 1 Kalahkan Legenda Asal Jepang

Siswa SMP Petra 1 Kalahkan Legenda Asal Jepang

0
SHARE
BERMAIN ROBOT: Pelajar memainkan robot pada kompetisi robot tingkat nasional.

Mark Alexander Ierwanto sungguh beruntung. Hobinya merakit gundam plastik model (gunpla) berhasil mengantarkan siswa kelas VIII SMP Petra 1 itu meraih prestasi dunia. Pada 12 Desember lalu, dia menjadi juara dalam Gunpla Builders World Cup (GBWC) di Tokyo, Jepang. Mengalahkan legenda juara dari Jepang.

Seni merakit gunpla masuk sejak sepuluh tahun lalu dan cukup digemari di Indonesia. Tak terkecuali Mark Alexander Ierwanto. Sejak kelas VI SD, bocah 14 tahun itu mengutak-atik gunpla.

Ketertarikan putra pasangan Juanita Mulyadi dan Wiyanto pada gunpla dimulai dari menonton serial Jepang hingga tayangan-tayangan di YouTube. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Mark membeli perangkat-perangkat gunpla. Mengumpulkan uang saku untuk membeli beragam perangkat dan alat-alat perakit.

Dia belajar secara otodidak melalui para YouTubers. Menirukan langkah demi langkah dengan model yang sama persis dengan yang dicontohkan Menyatukan bagian-bagian kecil menjadi sebuah rangka karakter gundam hingga membuatnya menjadi satu kesatuan karakter utuh. “Mengulang-ulang video berbahasa Jepang. Terus, saya praktikkan sendiri. Meski saya ndak paham bahasanya,” ungkap remaja kelahiran 9 September tersebut.

Ibu Mark, Juanita Mulyadi, mendukung penuh bakat sang anak. Menurut dia, sang anak memang memiliki keahlian khusus yang berkaitan dengan kerumitan dan seni menghitung. Putranya juga sering mewakili Indonesia untuk mengikuti olimpiade matematika internasional.

“Kalau rakit-rakit gunpla ini, kan juga butuh perhitungan. Memproyeksikan kemiringan dan ketebalan rangka agar karakter bisa berdiri sesuai yang diinginkan,” katanya.

Setelah mencoba merakit gunpla dengan model karakter dari YouTube, Mark berupaya mengkreasikan sendiri karakter impiannya. Dia mulai mendesain karakter sendiri. Perangkat dan kit yang digunakan semakin rumit. Bahkan, dia harus membeli beberapa peranti dan kit langsung dari Jepang karena belum ada di Indonesia.  “Semua bikin sendiri. Mulai bikin desain, rancang kerangka, ngelem, hingga mengecat. Berkali-kali gagal, tapi lega akhirnya bisa membuat sendiri,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here