Home TANGERANG HUB Kampung Rumpaksinang di Kelapa Dua Terhimpit Hutan Beton

Kampung Rumpaksinang di Kelapa Dua Terhimpit Hutan Beton

1
SHARE
Siswa SD Rumpaksinang tengah mempelajari ilmu multimedia yang dipandu seorang mahasiswa UMN Gading Serpong, Rabu (9/1) FOTO: UMN for FIN

Sebuah kampung tetap bertahan di tengah kepungan hutan beton kawasan elite Gading Serpong, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Kampung yang dihuni lebih dari 3.000 warganya berjuang mempertahankan identitas dan tanahnya.

KHANIF LUTFI- Gading Serpong

Matahari sangat terik meski jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Lalu lalang kendaraan memadati kawasan Gading Sserpong, Kelurahan Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Sudah lebih satu dekade, kawasan itu menjelma menjadi sebuah kawasan kota mandiri lengkap dengan fasilitas modern.

Gading Serpong merupakan kawasan yang dibangun pengembang raksasa Paramount Land dan Summaercon Serpong. Tak jauh dari lokasi ini, ada pula kota mandiri, BSD City kawasan perumahan dan pusat bisnis produk Sinarmas Land. Isinya pun dikemas lebih modern. Full hunian mewah, pusat komersial, fasilitas pendidikan dan tentunya gaya hidup. Meski demikian, tidak semua warga di sini larut dalam kemewahan. Sebuah kampung bernama Rumpaksinang masih tetap eksis menjaga identitasnya sebagai pemukiman penduduk tradisional tengah roda pembangunan properti yang terus menggila.

Era 90-an kawasan ini hanya sebuah kebun rambutan dan persawahan. Hampir semua penduduknya bermata pencaharian petani. Hingar bingar gaya modern Jakarta tak pernah mampir ke daerah ini. Meski jaraknya hanya 20 kilometer. Seiring berjalannya waktu, areal persawahan itu pun berubah menjadi perumahan. Kampung Rumpaksinang pun berada di tengah rimba beton. Di kawasan ini pendidikan tetap menjadi nomor satu. Sebuah pesantren, madrasah ibtidaiyah dan dua buah sekolah dasar berdiri di tengah kampung tersebut. Siswanya rata-rata warga setempat. Sementara SMP dan SMA, di pusat Kecamatan Kelapa Dua. Saat berada di salah satu sekolah, wartawan mendapati para siswanya tengah diajari mengenal komputer.

Sang pengajarnya dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang jaraknya tak jauh dari kampung tersebut. “Kami sedang ada program pengabdian masyarakat, jadi siswa-siswi di sini kita ajari memahami dunia komputer,” terang Jeni, salah seorang pengajar di sana. Sebuah proyektor memantulkan program belajar komputer. Meski demikian keriuhan para siswa masih tetap seru. Tak semua siswa belajar, ada sebagian pula yang sibuk dengan game di smartphone-nya. Mereka masih menganggap dunia telepon pintar lebih menyenangkan ketimbang komputer. “Ya mesti sabar mas,” kata Jeni.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here