Home BISNIS REI Bangun 430.000 Rumah Tahun Ini

REI Bangun 430.000 Rumah Tahun Ini

0
SHARE
RUMAH: Tahun 2019 ini REI akan membangun sekitar 430 ribu unit rumah bersubsidi dengan kisaran harga Rp200 juta hingga Rp300 juta per unit. FOTO: Ilustrasi

JAKARTA-– Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia atau REI sepanjang 2018, telah membangun sebanyak 394.686 unit rumah di seluruh Tanah Air. Capaian itu terdiri dari rumah bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebanyak 214.686 unit dan rumah komersial bawah dengan kisaran harga Rp200 juta hingga Rp300 juta sebanyak 180 ribu unit.

Realisasi pembangunan rumah REI ini meningkat dibandingkan capaian pada 2017, dengan total sebanyak 376.290 unit, yang terdiri dari rumah bersubsidi untuk MBR sebanyak 206.290 unit dan rumah komersial (non subsidi) sebanyak 170 ribu unit.

Ketua Umum DPP REI, Soelaeman Soemawinata mengungkapkan, jumlah rumah yang terbangun sepanjang 2018 tersebut belum termasuk rumah komersial di segmen menengah atas. Baik itu di Jabodetabek dan kota-kota besar di seluruh Indonesia yang mayoritas memang dibangun oleh pengembang anggota REI.

Dia mengakui, pendataan rumah-rumah komersial (non subsidi), terutama di daerah memang mengalami kendala. Karena, pengembang tidak memberikan laporan pembangunan kepada Sekretariat DPP REI.

“Meski begitu, dengan angka 394.686 unit rumah terbangun di 2018 itu saja sudah menunjukkan bahwa kontribusi REI dalam Program Sejuta Rumah sepanjang 2018, hampir mencapai 40 persen dari realisasi keseluruhan yang dilaporkan Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) sebanyak 1.132.621 unit,” ungkap Eman sapaan akrab Soelaeman dikutip dari keterangan resminya, Rabu (23/1).

Dia menjelaskan, di 2018, Jawa Barat dan Jawa Timur, menjadi dua daerah dengan pembangunan rumah bersubsidi terbanyak, masing-masing 31.858 unit dan 29.653 unit. Disusul Sumatera Selatan, Banten, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski pemerintah sudah melakukan banyak terobosan untuk mendorong pembangunan rumah bersubsidi, Eman menyebutkan, masih banyak persoalan di lapangan yang menghambat pasokan rumah rakyat, terutama kendala perizinan dan ketersediaan lahan di daerah.

Meski pemerintah pusat sudah menerbitkan sejumlah regulasi untuk penyederhanaan dan kemudahan perizinan seperti PP 64 tahun 2016, namun diakui kondisi di mayoritas daerah belum banyak berubah.

“Masalah klasik lain adalah harga lahan untuk rumah MBR yang terus meningkat, sehingga untuk mengimbangi harga lahan yang mahal, REI berharap adanya kenaikan harga rumah bersubsidi,” papar Eman.

REI juga berharap, pemerintah senantiasa mendukung bisnis properti secara kongkrit terutama terkait perizinan di daerah, karena terbukti industri ini dapat menjadi stimulan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di sektor riil. Merujuk riset yang dilakukan Universitas Indonesia (UI), sedikitnya ada 174 industri ikutan yang dipengaruhi kondisi sektor properti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here