Home TANGERANG HUB Tugas Tokoh Ademkan Suasana

Tugas Tokoh Ademkan Suasana

1
SHARE
DEKLARASI JAGA TANGSEL: Perwakilan tokoh agama di Kota Tangsel membacakan deklarasi kesiapan mereka dalam menjaga kondusivitas dalam Pemilu 2019 disaksikan Wakapolres Kompol Arman (belakang tengah) bersama Walikota Airin Rachmi Diany (kanan) di Hotel Grand Juri BSD, Serpong, Kamis (28/2). FOTO: Humas Pemkot for Tangerang Ekspres

SERPONG-Polres Tangsel mengumpulkan tokoh lintas agama se-Kota Tangsel di Hotel Grand Juri BSD, Serpong, Kamis (28/2). Hal ini dilakukan untuk mengajak para tokoh menyukseskan pemilu pada 17 April mendatang.

Waka Polres Tangsel Kompol Arman mengatakan, acara tersebut dikemas dalam Forum Silaturahmi Kamtibmas (FSK) Polres Tangsel bersama tokoh lintas agama jelang pemilu 2019.

“Tema hari ini, kita sukseskan pemilu 2019 dengan aman dan damai melaui peran tokoh lintas agama,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (28/2).

Arman menambahkan, jelang pencoblosan pada 17 April mendatang, tiap hari terjadi berbagi bentuk gangguan kantibmas dan gangguan keamanan. Seperti, maraknya berita hoax, tempat ibadah dijadikan tempat kampanye atau politik praktis, peredaran narkoba, penganiayaan, mabuk-mabukan dan lainnya.

Menyikapi itu polres terus melakukan upaya-upaya pencegahan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap hukum dengan menumbuhkembangkan sikap mental dan ketertiban di lingkungan masing-masing dalam suatu sistem keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Tugas untuk jaga keamanan ini bukan hanya di pundak polisi saja tapi, semua masyarakat,” tambahnya.

Masih Arman, polisi dan masyarakat perlu bersama-sama menggalang kemitraan untuk memelihara dan meningkatkan sistem keamanan dan ketertiban lingkungan dilandasi kesetaraan. Masyarakat juga merupakan subjek kamtibmas pemecah masalah di lingkungan masing-masing dengan polisi sebagai fasilitator mediator, dengan harapan permasalahan dapat diatasi sejak akar masalah yang menjadi penyebab.

“Oleh karenanya kesadaran akan pentinganya peran serta masyarakat dalam menjaga kamtibkan dan kesadaran hukum perlu dibangun,” jelasnya.

Mantan Kasat Reskrim Polres Tigaraksa Tangerang tersebut menjelaskan, strategi penerapan Polmas yang dilakukan polri sekerang telah melibatkan unsur-unsur dan organisasi masyaarakat. Bentuknya mulai dari Kelompok Sadarkamtibkan, Siskamling, Tatpam, kelompok sadar kamtibmas (KSK), forum-forum kemitraan polisi dengan masyarakat dan lainnya.

Polres berharap, kata Arman, usai acara tersebut para tokoh agama diharapakn mampu menjadi motivator untuk kepada lingkungan masing-masing. Untuk selalu peduli dan turut serta menjaga kamtibmas.

“Ini bisa dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan pemukiman, tempat kerja dan dimanapun berada,” ungkapnya.

Tokoh agama diharapkan dapat memberikan makna yang bermanfaat bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat dan memberi warna sendiri sehingga mampu memberikan kontribusi politik menjaga kantibmas terutama jelang pemilu.

“Saya berpesan kepada tokoh agama agar menjaga dan memelihara kekompakan, kebersamaan. Sehingga tercipta rasa kekeluargaan, kebersamaan dan persaudaraan antara sesama,” tuturnya.

Sementara itu, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengatakan, Tangsel merupakan kota yang baru berusia 10 tahun dengan beragam dinamika. Mulai dari pertumbuhan ekonomi, budaya, politik dan lainnya yang luar biasa.

“Mau tidak mau Tangsel masuk zona merah karena beberapa tahun lalu ada teroris dan sejak dua tahun ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Airin menambahkan, pemkot dan polres sudah lalukan evaluasi bersama terkait tingkat partisipasi pemilih Tangsel yang paling rendah dibanding kabupaten/kota lain di Banten.

Itu tugas bersama untuk menyukseskan pemilu bagaimana cara agar partisipasi warga meningkat dengan mau datang ke TPS masing-masing.

“Pemilu dilakukan Rabu (17/4) dan itu tanggal merah, dan Jumat sebelumnya juga tanggal merah. Ada kekhawatiran masyarakat justru keluar kota,” tambahnya.

Proses penyelenggaraan kampanye terbuka dimulai awal Maret, mudah-mudahan tidak ada gesekan. “Media sosisal (medsos) atau tv boleh panas tapi, hati kita tidak boleh ikut panas, di sinilah fungsi pemuka agama, tokoh agama untuk membuat sejuk Kota Tangsel,” jelasnya.

Ibu dua anak tersebut berharap tokoh agama bisa sejukkan suasana di Tangsel. Pilihan boleh beda tapi, kedepan Tangsel tetap jadi kota dan rumah kita bersama. Tanyang di tv terkait debat antar juru bicara (jubir) dan lainnya luar biasa dan mudah-mudahan di Tangsel tetap adem.

“Saya berharap tokoh agama, alim ulama, tokoh lintas untuk bisa menyejukkan masyarakat. Tolong sampaikan dalam tiap ceramah atau peribadatan untuk sampaikan dan ingatkan kita adalah Indonesia, kita adalah warga Tangsel dan setelah 17 April harus kembali seperti semula,” tuturnya.

Di tempat yang sama Ketua MUI Kota Tangsel KH Saidih mengatakan, ada empat hal yang perlu diketahui masyarakat, yakni 17 Agustus, 17 Ramadan, 17 Rakaat dan 17 April.

“Semuanya penting dan mudah-mudahan pemilu berjalan aman. Ulama tugasnya tidak beda dengan polisi, polisi untuk jaga keamanan, sedangkan ulama jaga iman,” singkatnya. (bud)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here