Home TANGERANG HUB Wujudkan Ketahanan Pangan

Wujudkan Ketahanan Pangan

1
SHARE
PANEN: Para petani di Kecamatan Solear, Kabupaten Tangernag memanen padi di sawah miliknya, pekan lalu. FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Pemerintah Kabupaten Tangerang, optimistis dapat mewujudkan ketahanan pangan secara mandiri karena telah meluncurkan 13 program berbasis warga. Kedaulatan pangan menjadi target capaian pemerintah dengan berbagai program. Pememerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menargetkan swasembada dapat diraih tidak tergerus adanya perubahan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).

Dari data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) di Kabupaten Tangerang dalam angka 2018 dimana produktivitas padi sebesar 59,8 kuintal per hektare. Serta memiliki produksi sebesar 448.201 ton dengan luas panen sebesar 74.910 hektare.

Kepala DPKP Aziz Gunawan, mengatakan, telah melakukan revisi fungsi lahan pertanian dimana sembilan kecamatan direncanakan menjadi lumbung padi. Hal tersebut dilakukan karena adanya alih fungsi beberapa lahan pertanian menjadi pusat permukiman yang menyesuaikan dengan Rencana Strategis Nasional (RSN).

“Kita bisa memaksimalkan lahan-lahan yang masih difungsikan dan kita membuat kawasan agropolitan di Kecamatan Sepatan Timur dan Sepatan. Adanya kawasan holtikultura dan urban farming yang kita maksimalkan yang bisa menutupi kebutuhan pangan masyarakat,” ujarnya, pekan lalu.

Masih dari data BPS, untuk padi gogo memiliki produktivitas sebesar 48,03 kuintal per hektare dengan produksi sebesar 19 ton. Serta luasan panen seluas empat hektare akan tetapi hanya ada di Kecamatan Cisauk. Sedangkan untuk produktivitas jagung mencapai 33,06 kuintal per hektare dengan produksi 242 ton.

Sementara, Kepala Bidang Sarana dan Pra Sarana Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Erwin Mawandy, menjelaskan, perubahan RTRW diakibatkan tiga hal yang memang tidak bisa terhindarkan untuk kota metropolitan dan penyangga ibu kota.

Adanya pengembangan kawasan strategis nasional seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang memanfaatkan lahan-lahan yang masuk administratif Kabupaten Tangerang. Untuk itu, di beberapa kecamatan sekitar mengalami perbuhan RTRW Kecamatan Teluknaga, Sepatan, Sepatan Timur, dan Kosambi yang menjadi penyangga bandara.

Untuk itu, pihaknya berencana menetapkan peraturan daerah tentang lahan pertanian abadi. Dimana lahan tersebut tidak bisa dialihfungsikan serta kawasan yang memang layak untuk jadikan lumbung. Selain itu, pihak pemilik lahan bakal mendapat subsidi untuk dapat meningkatkan produktivitas serta mencegah dialihfungsikan.

“Perkembangan perkotaan semakin cepat artinya harus dipersiapkan sarana dan pra-sarana untuk melayani masyarakat di segala sektor baik permukiman, hingga transportasi. Serta pertumbuhan penduduk kita sebesar 3,2 hingga 33 persen,” papar Erwin kepada Tangerang Ekspres.

Kata Erwin, lahan pertanian berkurang sudah menjadi isu hangat baik di pemerintahan maupun di publik. Pemerintah sudah kita persiapkan untuk mengantisipasi lahan pertanian berkurang. Dimana kedepan dalam RTRW baru akan ditetapkan lahan pertanian abadi di 9 Kecamatanyang masih produktif dan ditingkatkan produktivitasnya. Mulai dari Kecamatan Kronjo, Gunungkaler, Kemiri, Sukadiri, Sukamulya, Mauk, Rajeg, Pakuhaji, serta Mekarbaru.

“Kita akan beri subsidi mulai dari pupuk, permodalan, pemasaran, traktor, dan irigasi yang bertujuan untuk memproteksi supaya tidak dijual. Karean perda RTRW menunggu persetujuan BPN/ATR setelah itu baru perda lahan pertanian abadi kita sah kan,” paparnya.

Gabungan nilai produksi padi di Kecamatan Kresek, Gunungkaler, Kronjo, Mekar Baru, Mauk, Kemiri, Sukadiri, Rajeg, dan Pakuhaji sebesar 59,13 persen atau sebesar 265. 038 ton dari 448.201 ton. Adapun luas lahan panen sebesar 42.457 hektare atau sebesar 56,67 persen dari 74.910 hektare.

Untuk penggunaan luas lahan sawah berdasarkan tadah hujan di Kabupaten Tangerang sendiri sebesar 11.869 hektare. Dimana dari luas tersebut sebsar 1.697 hektare dapat dipanen sekali dalam setahun dan sebesar 10.172 hektare dapat dipanen dua kali dalam setahun.

Sedangkan, untuk penggunaan total luas lahan sawah berdasarkan irigasi sebsar 24.217 hektare. Dimana 4 hektare dari luas lahan tersebut tidak ditanami apapun dan 94 hektare tidak ditanami padi. Serta yang dapat dipanen sekali dalam setahun sebesar 581 hektare yang hanya ada di Kecamatan Teluknaga dan Kosambi.

Untuk luas lahan yang dapat dipanen sebanyak dua kali yakni sebesar 23.538 hektare. Serta luas lahan sawah yang tidak ditanami padi akibat menggunakan sistem pasang surut seluas 55 hektare dan sistem lebak seluas 52 hektare yang dapat dipanen sebanyak dua kali dalam setahun.

Menanggapi hal tersebut, Erwin menegaskan, potensi hilangnya lahan pertanian di empat kecamatan sekitar Bandara Soetta merupakan konsekuensi dari perkembangan dan pertumbuhan perkotaan. Untuk itu dalam kawasan tersebut tidak ada perindustrian hanya kawasan permukiman. Selain itu, adanya pemanfaatan lahan menjadi laha pertanian modern.

“Akan tetapi hilangnya lahan pertanian akan digantikan urban farming dengan lahan milik pemerintah di Sepatan untuk pusat holtikultura. Ini merupakan akibat dari pertumbuhan kota,” tegasnya. (mg-10/mas)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here