Home BANTEN Produksi Kopi Banten Masih Minim

Produksi Kopi Banten Masih Minim

0
SHARE
MENCICIPI: Kepala Distan Provinsi Banten, Agus M. Tauchid, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, dan Menteri Pertanian  tahun 2004-2009 Anton Apriantono mencicipi berbagai macam kopi yang tersedia Festival Kopi Banten 2019 di halaman Pendopo Bupati Serang, Rabu (24/4). FOTO: Syirojul Umam/Banten Ekspres

SERANG – Produksi kopi di Provinsi Banten masih terbilang minim, yakni 24-28 ton per tahun. Padahal kebutuhan kedai kopi di Banten tinggi, yakni 150 ton per tahun. Penyebabnya, lahan perkebunan kopi masih minim, 6.468 hektare.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus M. Tauchid di sela-sela Festival Kopi Banten 2019 di halaman Pendopo Bupati Serang, Rabu (24/4).

“Hasil produksi ini memang masih kecil, apalagi lihat kenyataan sekarang di Banten komunitas kopi yang sangat luar biasa, pertumbuhan kedai cepat sekali. Masih banyak kekurangannya, bisa dikalikan saja ada 85 kedai dengan kebutuhan kopi minimal 5 kilogram per hari,” katanya.

Menurut dia, untuk meningkatkan produksi kopi di Banten, pihaknya akan memberikan bantuan benih kopi unggul kepada petani-petani di lahan terbaik di Banten yang saat ini didominasi di Kabupaten Lebak dan Pandeglang dengan jenis kopi Robusta.

“Dengan kekurangan ini bisa ditutupi dengan kopi lainnya seperti Toraja dan lainnya. Tapi kita ingin brand kopi asal Banten juga bisa muncul, tentunya dengan mengamankan dan mapping (pemetaan) daerah hulu juga dukungan sampai dengan hilir,” ujarnya.

Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah mengatakan kopi merupakan salah satu komoditas tanaman unggulan di Kabupaten Serang bersama dengan cengkih dan kakao. Namun kopi yang ada di Banten khususnya di Kabupaten Serang belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.

“Persoalannya kita harus menyelesaikan ini dari hulu sampai ke hilir, karena kopi ini menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari, bahkan hampir menjadi kebutuhan pokok bagi bapak-bapak,” katanya.

Menurut dia, bila kopi diproduksi sampai dengan matang dan dijualbelikan seperti di kedai-kedai maka akan menjawab persoalan pengangguran dengan menyerap tenaga kerja. Nilai tambahnya pun bisa langsung dirasakan masyarakat sekitar.

“Saya men-support (mendukung) kepada panitia penyelenggara yang mengumpulkan kedai kopi, mereka bisa mendiskusikan tentang kopi, dan memberi masukan kepada pemerintah daerah, khususnya Distan baik kabupaten maupun provinsi,” ujarnya.

Tatu mengatakan pengelolaan kopi di Kabupaten Serang belum maksimal seperti di Cinangka dan lainnya. Oleh karena itu, pihaknya akan mendukung kedai kopi yang ada di Kabupaten Serang.

“Saya ingin dari Kabupaten Serang juga ada, katanya ada pemilik kedai di Kabupaten Serang, hanya saja pemda (Pemkab Serang) harus mendorong agar mereka lebih bisa muncul, misalnya ada tempat yang diberikan yaitu tempat yang strategis dan mudah dijangkau,” paparnya. (mg-03)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here