Home NASIONAL Pabrik Mancis Terbakar, 30 Orang Tewas

Pabrik Mancis Terbakar, 30 Orang Tewas

0
SHARE
EVAKUASI KORBAN: Tim Puslabfour Polda Sumut melakukan olah tempat kejadian perkara (TK) di rumah yang dijadikan pabrik korek api di Jalan Tengku Amir Hamzah, Desa Samberejo, Kabupaten Langkat, kemarin. Sebanyak 30 pekerja tewas, akibat terbakarnya pabrik itu. FOTO: Ivan Damanik/AFP

Pabrik korek api di Jalan Tengku Amir Hamzah, Dusun IV Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Langkat, Sumut, meledak Jumat (21/6), Pukul 12.00 WIB. Setidaknya 30 orang tewas terpanggang dalam tragedi di usaha rumahan tersebut. Dari 30 korban tewas, 4 orang adalah anak-anak. Korban tewas mayoritas pekerja pabrik yang tinggal di sekitar lokasi. Peristiwa bermula saat warga tengah melaksanakan salat jumat. Tiba-tiba, terjadi ledakan sebanyak tiga kali. Dari rumah permanen berukuran sekitar 5×7 meter yang sesak dipenuhi alat produksi itu, seketika muncul kobaran api.

Dari informasi yang dihimpun, para korban tak bisa menyelamatkan diri akibat terjebak di sana. Kebanyakan korban menumpuk di dekat pintu depan pabrik yang dalam keadaan terkunci. Saat ledakan terjadi, warga berhamburan datang melakukan penyiraman, sebelum mobil pemadam kebakaran datang. Diduga suara ledakan berasal dari kebocoran tabung gas di ruang belakang. Gas memantik api yang cepat menyebar ke seluruh gudang. Setelah proses pendinginan pasca pemadaman selesai, pemandangan menyayat hati terpampang jelas. Kondisi jenazah dalam kondisi hangus terbakar. Korban tewas terdiri dari ibu rumah tangga dan anak-anak.

Proses evakuasi bersama Polda Sumut kemudian dilakukan. Sekitar 30 kantong jenazah dimasukkan ke dalam lokasi. Hingga pukul 16.00 WIB, jenazah para korban akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Medan untuk diidentifikasi. Suryadi yang bekerja di pabrik itu berhasil menyelamatkan diri lewat pintu belakang. Ia mengaku, para pekerja yang didominasi wanita tak bisa keluar saat kejadian. Hanya ada empat pekerja yang selamat dalam peristiwa kebakaran tersebut. Saat kejadian, sambungnya, kepanikan terjadi. Api yang menjalar membuat para korban menuju pintu depan yang kondisinya terkunci. “Pas kejadian, kondisi pintu depan terkunci, yang buka hanya pintu belakang, sedangkan sumber kebakaran dari arah belakang,” katanya.

Suryadi yang saat itu berada dalam ruangan mengaku masih trauma. Ia tak menyangka akan melihat rekan kerjanya terpanggang dalam api. “Saya keluar dari pintu belakang. Waktu kejadian, saya lagi makan. Begitu kejadian saya sempat melihat ke depan. Setelah itu saya lemas. Mau berdiri saja pun enggak sanggup. Kami lihat semuanya kawan kami yang jadi korban,” terangnya.

Diakuinya kejadian berlangsung cepat. Gas membuat api menjalar ke seluruh ruangan. Tak ada alat pemadam dalam ruangan sempit tersebut. Sementara, Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto, mengatakan, kebakaran terjadi karena pengusaha mengabaikan keamanan dan keselamatan kerja para pekerja yang merupakan kaum perempuan. “Tidak ada standar keamanan dalam pabrik tersebut. Tidak ada (alat pemadam kebakaran-red) di dalam. “Para korban diduga meninggal dunia karena terjebak di dalam ruangan di pabrik saat terbakar tadi. Jalan keluar tidak ada dan mereka diduga terkunci dari dalam,” imbuhnya.

Disinggung, proses penyelidikan, Agus mengatakan tengah memeriksa pemilik perusahaan pabrik mancis rumahan. Sayang, ia enggan menyebut inisial pemilik usaha pabrik mancis rumahan itu. “Yah nantilah, masih kita selidiki,” paparnya. Selain korban jiwa, sejumlah kendaraan ikut hangus terbakar. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Langkat Irwan Syahri mengatakan, sekitar 10 unit motor juga terbakar. Pihaknya belum bisa menyebutkan nilai kerugian akibat kebakaran. “Belum bisa kita sebut, masih dihitung dan fokus pada lokasi,” terangnya.

Diketahui, rumah tersebut milik Suriadi (35), penduduk Desa Sambirejo. Dari keterangan kakak kandung Suriadi, Rusmiati (59), pabrik yang berada persis di depan rumahnya itu dikontrakan adiknya kepada salah seorang pengusaha, warga Medan sejak tahun 2011. “Rumah itu milik orang tua saya yang sudah meninggal dan rumah itu diwariskan untuk adik saya yang paling kecil, yaitu Suriadi,” ujarnya. Dari keterangan Rusmiati, para korban dibayar berdasarkan borongan. Tetapi ia tidak tahu berapa target dan pembayarannya. Rata-rata karyawan dibayar Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu perbulan. Jumlah itu merupakan akumulasi gaji mereka yang dibayar seminggu atau per sepuluh hari kerja. “Karyawannya hanya memasang pemantik mancis, kalau gas memang sudah terisi dalam mancis yang belum ada kepalanya,” terangnya.

Terpisah, Bupati Langkat Terbit Rencana PA akan memanggil Dinas Perindustrian terkait izin. Hal itu diungkapkanya saat meninjau lokasi. Jika ditemukan tidak memiliki izin, pihaknya akan bertindak tegas. Hal ini bukan saja dilakukan terhadap pemiliknya, melainkan juga kepada pihak-pihak yang terlibat. “Proses hukum kepada pemiliknya kita serahkan kepada kepolisian, kita akan rapat bersama mengenai izin pabrik tersebut,” paparnya. “Secepatnya Pemkab Langkat akan melakukan pemeriksaan izin perusahaan. Bukan saja terhadap pabrik ini, melainkan semua pabrik yang ada di Langkat. Agar peristiwa yang sangat memiluhkan ini tidak terulang lagi,” imbuhnya

Isak tangis keluarga dan kerabat korban kebakaran sebuah pabrik perakitan mancis (korek api), Jalan Tengku Amir Hamzah, Desa Samberejo, Kabupaten Langkat pecah, saat jenazah korban tiba di RS Bhayangkara Medan, kemarin (21/6). Sejumlah orang yang merupakan keluarga korban tampak mengerumuni mobil jenazah untuk mencari sanak saudaranya. Namun, kondisi jenazah yang terpanggang membuat para korban tidak dapat dikenali.

Faisal, suami dari Maria, salah seorang dari 30 korban kebakaran tersebut mengaku tidak dapat mengenali istrinya. Ia mengatakan hanya pakaian hitam yang terakhir dikenakan istrinya menjadi tanda. “Cuma itulah tanda kalau jenazah itu (Maria) istri saya,” terangnya saat di temui di RS Bhayangkara Medan. Pria yang tinggal di Kelurahan Kebun Lada, Kota Binjai ini mengaku mendapat kabar kebakaran saat hendak berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat jumat.

Setelah mendapat kabar tersebut, Faisal langsung menuju ke lokasi kebakaran untuk mencari sang istri yang bekerja di pabrik tersebut.”Langsung lari saya ke lokasi, tapi sampai sana (pabrik perakitan mancis) saya lihat sudah bertumpuk mayat,” ujarnya lirih. Peristiwa kebarakan terjadi sekitar pukul 12.00 WIB menjelang salat Jumat. Semua korban sedang diidentifikasi dan autopsi. Jenazah tiba di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara sekitar pukul 14.30 WIB dibawa dengan menggunakan sejumlah mobil ambulans Puskesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat. Kemudian, dimasukkan ke dalam kamar jenazah oleh beberapa petugas rumah sakit milik Polri itu.

Mobil ambulans pertama membawa tiga jenazah, mobil kedua enam jenazah, dan mobil ketiga membawa delapan jenazah, dua di antaranya anak-anak. Sebelumnya, pabrik perakitan mancis yang berada di Desa Sambirejo Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Jumat, sekitar pukul 12.05.00 WIB musnah terbakar, dan menewaskan puluhan pekerjanya termasuk juga anak-anak yang berada di lokasi pabrik tersebut.

Rata-rata pekerja yang tewas itu adalah ibu-ibu yang juga membawa anaknya saat bekerja. Kebakaran yang melanda rumah yang merangkap sebagai pabrik mancis itu diduga akibat ledakan tabung gas. Akibatnya api langsung menyambar hingga menghanguskan rumah tersebut. Puluhan pekerja yang berada di dalam rumah tidak sempat keluar, akibatnya semuanya tewas terpanggang. Api baru dapat dipadamkan setelah dua unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkab Langkat dan tiga unit milik Pemkot Binjai tiba di lokasi. (dbs/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here