Home TANGERANG HUB BPOM Selidiki KLB Hepatitis A di Pacitan, 41 Orang Masih Dirawat

BPOM Selidiki KLB Hepatitis A di Pacitan, 41 Orang Masih Dirawat

0
SHARE
Kepala BPOM Penny K. Lukito (kanan)

JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis, hingga Ahad (30/6), sebanyak 41 orang di Pacitan, Jawa Timur, yang menderita penyakit hepatitis A masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Kendati demikian, jumlah kasus jauh menurun sejak penyakit ini muncul enam pekan lalu.

Direktur Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu mengatakan, data jumlah kasus hepatitis A per Ahad (30/6) pagi mengungkap sebanyak 41 orang masih menderita penyakit ini. “Mereka kini masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Rinciannya di Sudimoro sembilan kasus, Ngadirojo 28 kasus, Bubakan tiga kasus, dan satu kasus di Ketrowonojoyo,” ujarnya seperti dikutip Republika, Ahad (30/6).

Kendati demikian, masyarakat Pacitan yang menderita hepatitis A berkurang dibandingkan saat penyakit itu muncul enam pekan lalu. Ia menyebut kasus hepatitis A di Pacitan secara kumulatif sebanyak 957 sejak kasus pertama muncul hingga hari ini.

“Tetapi mayoritas sudah pulang dan sembuh. Tinggal 41 orang itu yang masih dirawat,” katanya. Untuk mencegah penderita bertambah, ia meminta masyarakat yang tinggal di daerah endemis menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

“Masyarakat juga jangan mengonsumsi makanan bersama dengan orang yang menderita hepatitis A dalam satu wadah,” katanya. Selain itu, masyarakat Pacitan harus memasak air hingga mendidih dan makanan hingga matang untuk mematikan virus hepatitis tipe A.

Di tempat berbeda, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) segera terjun ke Pacitan, Jawa Timur (Jatim), untuk menelusuri kejadian luar biasa (KLB) penyakit hepatitis A. Kabarnya hepatitis terjadi akibat pengolahan makanan-minuman yang kurang tepat. Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan, ia akan meminta laporan kasus ini ke Balai Besar POM Jawa Timur.

“Mungkin memang ada kementerian lain yang lebih berperan tetapi apapun yang terkait pangan maka BPOM wilayah Jatim akan turun dan masuk mencari informasi dan melihat KLB tersebut,” katanya saat ditemui, di peringatan keamanan pangan dunia, di FX Sudirman, Jakarta, Ahad (30/6).

Ia menambahkan, BPOM yang menjadi salah satu anggota dalam jejaring komunikasi mengenai ketahanan pangan maupun keamanan pangan di daerah tersebut terus berkoordinasi. Kemudian, ia menambahkan, BPOM memastikan menindaklanjuti temuan ini nanti.

“Sekarang sedang proses,” ujarnya.

Sebelumnya Wabah penyakit Hepatitis A baru-baru ini dikabarkan terjadi di Pacitan, Jawa Timur. Ditemukan ada ratusan kasus hepatitis yang tersebar di delapan kecamatan di Pacitan, Jawa Timur.

Penyelidikan mewabahnya penyakit Hepatitis A ini juga sedang diteliti Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Dinkes melakukan penyelidikan epidemologi di Kabupaten Pacitan menyusul penetapan kejadian luar biasa (KLB) hepatitis A di wilayah tersebut. Kegiatan itu juga dilakukan di desa pertama di Kecamatan Sudimoro yang dicurigai menjadi titik awal munculnya kasus Hepatitis A yang sangat menular tersebut.

Hasilnya, disimpulkan virus Hepatitis A merebak dipicu oleh pola hidup masyarakat yang tidak sehat, lingkungan yang kurang bersih serta air yang tidak higienis. Bencana kekeringan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ikut mempercepat penyebaran virus Hepatitis A di wilayah tersebut.

“Kekeringan telah menyebabkan pasokan air bersih di masyarakat berkurang. Ini ikut memicu persebaran virus Hepatitis A dalam dua pekan terakhir,” kata Kepala Dinas Kesehatan Pacitan Eko Budiono, Sabtu (29/6).

Kesimpulan tersebut diperoleh tim sanitarian dan epidemiologi Dinkes Pacitan saat melakukan serangkaian kegiatan surveilansi ke desa-desa yang warganya banyak tertular virus Hepatitis A atau penyakit kuning tersebut. Kegiatan itu juga dilakukan di desa pertama di Kecamatan Sudimoro yang dicurigai menjadi titik awal munculnya kasus Hepatitis A yang sangat menular tersebut.

Hasilnya, disimpulkan virus Hepatitis A merebak dipicu oleh pola hidup masyarakat yang tidak sehat, lingkungan yang kurang bersih serta air yang tidak higienis. Kondisi itu diperparah dengan pola pengolahan makanan-minuman yang kurang tepat. Misal dalam memasak air, tidak sampai mendidih. “Ini kalau ada kontaminasi virus Hepatitis tidak akan mati,” ujar staf sanitarian Dinkes Pacitan, Dian Bahri.(rep/ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here