Home HUKUM Densus 88 Tangkap Amir JI, JI Punya Perusahaan Sawit Besar di Kalimantan...

Densus 88 Tangkap Amir JI, JI Punya Perusahaan Sawit Besar di Kalimantan dan Sumatera

0
SHARE
KETERANGAN PERS: Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Dedi Prasetyo (kanan) dan Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol. Asep Adi Saputra (kiri) saat Konferensi Pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (1/7). FOTO: Antara

JAKARTA — Densus 88 Antiteror bersama Polda Jawa Barat menangkap terduga teroris bernama PW (54) di Hotel Adaya, Jalan Raya Kranggan, Jatiraden, Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat pada Sabtu (29/6). PW diketahui memegang posisi penting bidang intelijen dalam struktur organisasi Jamaah Islamiyah (JI) pada sekitar tahun 2000-an. Kemudian PW menjabat sebagai amir JI setelah organisasi tersebut dibubarkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Setelah JI dinyatakan dibubarkan, dia dibaiat sebagai amir (pemimpin) JI di Indonesia,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Senin (1/7).

PW yang memiliki nama alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arif alias Ahmad Fauzi Utomo ini, memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai kasus terorisme di Tanah Air. Ia pun diduga memiliki kedekatan dengan gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top.

“Mulai dari kasus bom Bali, bom Natal, bom di Kedubes Australia, dan yang bersangkutan aktif saat terjadi kerusuhan di Poso dari tahun 2005 sampai 2007,” katanya.

PW diketahui merupakan alumnus pelatihan militer di Moro, Filipina pada tahun 2000. Dari sisi intelektual, PW diketahui menyandang gelar S1 Teknik Sipil di salah satu universitas ternama di Jawa Tengah.

“Yang bersangkutan punya kompetensi merakit bom, kemampuan intelijen dan kemampuan militer lainnya, sehingga dia dibaiat sebagai pimpinan JI,” katanya lagi.

Peran PW lainnya adalah telah mengirim orang-orang rekrutan ke Suriah untuk menjadi jihadis. Orang-orang rekrutannya tersebut rata-rata memiliki kemampuan intelijen dan militer serta mampu merakit bom. Dedi Prasetyo mengatakan, diduga ada enam kali pemberangkatan para calon jihadis ke Suriah dalam rentang 2013-2018.

“Sebagian besar dari enam gelombang yang berangkat ke Suriah dan kembali ke Indonesia pada Mei (2019) sudah ditangkap, antara lain (penangkapan) di Jateng yang menyusup ke jaringan Jateng maupun Jatim,” katanya pula.

Dedi menambahkan, PW bersama jaringannya di Indonesia sedang menyusun kekuatan di bawah naungan Al Qaeda. Selain itu, juga menjalin komunikasi dengan jaringan teroris di Filipina serta pecahan kelompok Al Qaeda di Pakistan dan Afghanistan.

“Saat ini jaringan JI ini memang belum melakukan rencana aksi terorismenya di Indonesia. Tapi, mereka saat ini sedang membangun kekuatan, tujuannya untuk membangun khilafah,” katanya.

Tak hanya PW, polisi menangkap pula istri PW yaitu MY dan orang kepercayaan PW yakni BS. Ketiganya ditangkap di lokasi yang sama dengan penangkapan PW. BS perannya sebagai penghubung PW dengan orang-orang yang direkrut.

Kemudian, Densus menangkap Abd di Perumahan Griya Syariah, Kebalen, Bekasi pada Minggu (30/6). Abd juga merupakan orang kepercayaan PW. Di hari yang sama di Ponorogo, Jawa Timur, Densus menciduk BT alias Haedar alias Deni alias Gani yang perannya sebagai penasihat PW dan penggerak JI wilayah Jawa Timur.

Polri membeberkan alasan organisasi teroris Jamaah Islamiyah (JI) bisa bertahan sejak dibekukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 22 April 2008 lalu.

Dedi mengungkapkan, bahwa kader organisasi eks pimpinan Abu Bakar Baasyir tersebut bisa bertahan hingga menggaji kadernya sebesar Rp10 juta-Rp15 juta per bulan karena JI memiliki perusahaan sawit cukup besar di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Menurut Dedi, keuntungan dari perusahaan sawit yang namanya masih dirahasiakan itu digunakan organisasi JI untuk mensejahterakan kadernya hingga mengirim para kader ke Suriah untuk belajar militer dan intelijen di sana, lalu ditarik kembali ke Indonesia untuk kaderisasi orang lain dan memperkuat basis kekuatannya.

“Kelompok JI ini tidak hanya memiliki kekuatan intelijen dan militer yang matang, tetapi juga ada kekuatan di bidang ekonomi. Mereka yang gabung itu diberikan gaji Rp10 juta-Rp15 juta. Usahnya di bidang sawit cukup besar ada di wilayah Sumatera dan Kalimantan,” tuturnya, Senin (1/7).

Dedi mengakui kelompok teroris JI masih belum nampak ke permukaan jika dibandingkan dengan kelompok Jamaah Ansorut Daullah (JAD) yang kini kerap melakukan aksi teror beberapa bulan terakhir di Indonesia. Kendati demikian, menurut Dedi, kelompok JI saat ini tengah membangun kekuatan pendanaan dan keanggotaan agar dapat menciptakan negara khilafah di Indonesia.

Dedi juga mengungkapkan organisasi teroris Jamaah Islamiyah (JI) berbeda dengan organisasi Jamaah Ansharut Daullah (JAD), meskipun kedua kelompok itu memiliki visi yang sama membangun negara khilafah di dunia. Organisasi JI hadir dan eksis lebih dulu di Tanah Air sebelum ada JAD karena JAD merupakan pecahan dari JI. Menurut Dedi, beberapa orang yang tidak sepakat dengan pola gerakan JI, akhirnya pindah ke JAD karena memiliki pola gerakan dan serangan yang lebih ekstrim di Indonesia.

Dari sisi afiliasi, menurut Dedi, JI berafiliasi dengan Al-Qaeda-organisasi teroris Internasional yang ada sejak tahun 1988 dan dipimpin Osama Bin Laden dan kini dilanjutkan Ayman Al-Zawahiri sejak 2011-sekarang. Sekutu Al-Qaeda di antaranya adalah Taliban, Boko Haram dan Abu Sayyaf.

Sementara, JAD sendiri terafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dibawah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi yang mulai eksis sejak tahun 2000 dan bergabung dengan Al-Qaeda pada 2004 sejak Perang Saudara Suriah dan Perang Irak pada 2003-2011, kemudian memisahkan diri dengan Al-Qaeda karena tidak memiliki misi yang sama agar visi tercapai.(rep/bis/ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here