Home TANGERANG HUB Harga Cabai Gila-gilaan

Harga Cabai Gila-gilaan

0
SHARE

Sejak pertengahan Juli lalu, harga cabai mulai naik. Hingga menjelang hari Raya Idul Adha, makin tak terbendung. Di sejumlah pasar tradisional di Kota Tangerang dalam dua hari, Kamis (8/8) dan Jumat (9/8) naiknya gila-gilaan. Cabai merah besar rata-rata naik Rp 12 ribu/kg. Cabai merah keriting naik Rp 15.850/kg. Cabai rawit hijau naik Rp 8.250/kg. Cabai rawit merah naik Rp 9.650/kg. Di Pasar Anyar dan Pasar Ciledug Kota Tangerang cabai rawit merah menyentuh angka Rp 111 ribu/kg.

Untuk menekan harga cabai, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangerang menggelar pasar murah di 12 pasar lingkungan. Dalam pasar murah itu dijual sejumlah sayur dan bahan pokok yang harganya melonjak. Salah satunya cabai. Cabai yang biasa dijual hingga Rp90 ribu per kilogram, di lokasi tersebut harganya Rp55 ribu per kilogram.

Kabid Perdagangan Disperindag Kota Tangerang Endang Purwaningsih mengatakan, untuk cabai yang dijual dalam pasar murah itu berasal dari Lampung. ”Cabai dari provinsi (Pemerintah Provinsi Banten-red), mereka bekerja sama membeli cabai dari Lampung dan dijual di sini,” katanya kepada Radar Banten saat ditemui di Pasar Pabuaran Tumpeng, Kamis (8/8).

Tak hanya dilakukan saat pasar murah, cabai dari Lampung juga ke depannya akan didistribusikan ke Pasar Induk Tanah Tinggi oleh Pemprov Banten. ”Cabai sudah sebulan terakhir harganya tinggi, karenanya nanti akan ada kerja sama dengan Pemprov Lampung dan nanti distribusinya lewat Pasar Tanah Tinggi,” jelasnya. Endang menuturkan, pasar murah yang digelar sebetulnya merupakan kerja sama Disperindag Provinsi Banten dengan Disperindag Kota Tangerang. Untuk pelaksanaannya dilakukan Selasa (6/8) lalu hingga 21 September mendatang. ”Waktunya satu hari dan bergiliran di setiap pasar lingkungan,” ungkapnya.

Di Kabupaten Tangerang juga naik. Pekan lalu di kisaran Rp80 ribu/kg. Kini sudah melonjak menjadi Rp100 ribu/kg. Harga tersebut menjadi patokan penjual terutamanya pengecer di pasar tradisional. Kepala Seksi Bahan Pokok dan Logistik Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Tangerang, Apid Rosadi mengatakan, kenaikan harga cabai terjadi secara nasional. Namun ketersediaan barang belum mengkhawatirkan. “Memang naik di semua tempat. Termasuk di kita. Saya juga sehabis pantau harga di pasar induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Sebab pasokan barang ke kabupaten dari sana. Kalau barang masih ada dan belum bisa dikatakan darurat ketersediaan barang. Kalau untuk harga memang naik senasional,” terangnya kepada Tangerang Ekpres melalui sambungan seluler, Jumat malam (9/8).

Kata Apid, harga cabai di pasar tradisional mencapai Rp100 ribu. Terkecuali di Pasar Kemis yang masih Rp80 ribu. Untuk harga cabai merah keriting di Pasar Curug mencapai Rp120 ribu/kg. Sedangkan cabai rawit merah mencapai Rp100 ribu/kg. “Kalau untuk pedangang di Pasar Kemis memang menjual rendah dari harga umum. Sebab mereka merupakan pedagang besar yang akan dijual ke pengecer. Di Pasar Cikupa saja cabai rawit merah sudah mencapai Rp100 ribu,” lanjutnya.

Namun, kata Apid, mengaku belum bisa dilakukan operasi pasar. Sebab, ketersediaan barang masih belum mengkhawatirkan. Hanya saja, para agen mengaku kesulitan mencari cabai dari petani. “Karena kekeringan banyak gagal panen. Jadi pedagang besar kesusahan mencari cabai. Kalau pasokan saat ini masih dari Jombang-Jogjakarta. Operasi pasar belum bisa dilakukan karena ketersediaan barang masih ada. Untuk menurunkan barang kita tidak memiliki kewenangan mengatur harga beli dan jual,” tukasnya.

Kepala Diskoperindag Kabupaten Serang, Abdul Wahid mengatakan kenaikan harga itu sudah menjadi rutinitas menjelang hari raya. Hal ini disebabkan banyak permintaan terhadap komoditas tersebut. “Memang setiap tahunnya menjelang hari raya ini selalu mengalami peningkatan harga, itu wajar dan tidak bisa kita kendalikan, karena ini asalnya dari Jawa,” katanya.

Penjual di Pasar Baros, Yayat mengatakan bahwa tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga yang signifikan, terkecuali cabai yang memang pasokannya berkurang. “Kita biasanya ini ngambil dari Pasar Rau (Kota Serang), karena pasokannya kurang sementara permintaan banyak jadi harganya tinggi,” ujarnya.

Kementerian Perdagangan mengaku belum bisa melakukan operasi pasar sebagai solusinya. Sebab, Kemendag perlu berkoordinasi lebih lanjut dengan Kementerian Pertanian terkait ketersediaan pasokan. Operasi pasar hanya dapat dilakukan apabila pasokan mencukupi.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengatakan pihaknya tengah menanti data dari Kementerian Pertanian untuk merancang solusi. “Saya masih berupaya bagaimana caranya. Kalau pasokan ada, tentu saja kami akan perintahkan kepada pedagang cabai untuk menurunkan harga serta operasi pasar,” ujar Tjahya, di Jakarta, kemarin.

Ketua Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan bahwa minimnya kapasitas cold storage membuat stabilitas harga cabai di tingkat petani dan konsumen sukar dikendalikan. Di saat produksi melimpah, harga cabai petani anjlok dan di kala produksi minim seperti sekarang, harga yang terus merangkak naik di pasar. “Kalau cold storage ada, harga aman-aman saja. Kalau lagi panen, harga di petani aman karena akan ditampung di cold storage. Sedangkan kalau produksi minim, konsumen aman, karena stoknya disimpan dengan baik,” ujar Henry.

Sementara itu, Pengamat Pertanian dari Insitut Pertanian Bogor Dwi Andreas menyebutkan bahwa musim kemarau tahun ini dapat dibilang lebih ekstrim dibandingkan dengan tahun lalu. Beberapa komoditas tanam yang cukup terdampak dan terasa langsung di suplai produksinya adalah beras dan cabai.
Dwi menjelaskan musim kemarau meyebabkan sektor pertanian mengalami pergeseran musim tanam.

Panen awal tahun yang seharusnya terjadi pada Februari sampai Maret, tahun ini bergeser menjadi Maret hingga April. Menurut Dwi, hal tersebut membuat musim tanam kedua harus mundur di bulan Mei. ”Puncak panen kedua berada di Agustus, bisa dibayangkan kondisi panen di bulan depan dengan cuaca seperti ini. Panen ketika puncaknya musim kemarau, lahan yang tidak teririgasi secara teknis berpotensi mengalami penurunan panen,” ujar Dwi.

Menurut Dwi, lahan pertanian di Indonesia yang teririgasi secara teknis hanya sekitar 45 persen. Sebanyak 55 persen sisanya masih beresiko gagal panen saat cuaca ekstrim menyerang. Selanjutnya adalah mengkaji potensi kenaikan harga. Kementerian dalam hal ini disebut Dwi bisa bekerja sama dengan berbagai institusi yang dapat mengawasi kenaikan harga seperti Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia. (mg-10/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here