Home TANGERANG HUB Kisah Warga Sepatan Timur Sebelum Meninggal di Tol Cipularang, Khawatir Tak Ada...

Kisah Warga Sepatan Timur Sebelum Meninggal di Tol Cipularang, Khawatir Tak Ada yang Ngurus Ayam Dijual

0
SHARE
DUKA: Sejumlah warga menyaksikan proses pemakaman Iwan di TPU Tanggulun, Desa Kampung Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Selasa (3/9). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

SEPATAN TIMUR – Duka menyelimuti kediaman Iwan Bin Nisin, warga Kampung Tanggulun RT 01/03, Desa Kampung Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Selasa (3/9). Tangis keluarga Iwan pecah saat jasadnya dimasukan ke liang lahat di TPU Tanggulun. Iwan adalah salah satu korban dalam kecelakaan beruntun yang melibatkan 21 kendaraan di KM 90-91 jalur arah Jakarta, Tol Cipularang, pada Senin siang.

Keluarga Iwan tidak ada yang menyangka saat pria itu pamitan akan mengirim barang ke Bandung. Sekitar Pukul 22.00 WIB Minggu (1/9) lalu, merupakan momen pertemuan terakhir dengan istri dan anaknya. Bahkan, keluarga Iwan juga tidak ada yang menyangka soal gerak-gerik tak biasa yang dilakukan Iwan belakangan ini.

Marwan, sepupu Iwan, menuturkan belum lama ini Iwan tak seperti biasa ingin memelihara ayam. “Tapi, belum lama Iwan merawat ayamnya. Ayam itu malahan dijual ke temannya,” tutur Marwan, kepada Tangerang Ekspres, Selasa (3/9). “Kemudian, Anah, istri Iwan, nanya kenapa ayamnya dijual. Iwan menjawab dia mau pergi, khawatir enggak ada yang ngurusin. Kisah itu sekitar dua hari sebelum Iwan meninggal dunia dalam peristiwa kecelakaan beruntun di Tol Cipularang,” tuturnya.

Selain itu, kata Marwan, ada kelakuan yang tak biasa dilakukan belakangan ini. Iwan sering bertanya kepada salah satu keluarga yang ingin menyelenggarakan resepsi khitanan. “Iwan nanya terus undangan resepsi khitanan kapan dibikin. Padahal, biasanya tidak sering bertanya seperti itu kalau ada keluarga yang ingin ramai-ramai ngadain resepsi,” kata Marwan.

Di luar kisah tersebut, menurut Marwan, Iwan sosok yang baik dan humoris. Sehingga keberadaan Iwan sering menghibur keluarga saat berkumpul-kumpul, dan teman yang di dekat Iwan. Dengan demikian, peristiwa yang merenggut nyawa Iwan itu sangat memukul keluarga, saudara, kerabat dan teman. “Jadi, banyak yang menyesali kepergian Iwan. Dan, kami masih belum percaya. Tapi, kami keluarga harus tetap mengikhlaskannya,” ucapnya. Ditanya Tangerang Ekspres kapan keluarga menerima kabar Iwan terlibat dalam kecelakaan beruntun di Tol Cipularang, Marwan menyebutkan kelurga menerima kabar tersebut pada Senin malam.

“Sekitar jam setengah dua dini hari, perwakilan keluarga sudah sampai di RS.MH Thamrin, Purwakarta. Kemudian, jenazah Iwan sampai di rumah sekitar jam 05.00 WIB. Lalu, disalatkan, dan dimakamkan sekitar jam 10 di TPU Tanggulun,” jelasnya. Marwan menambahkan, Iwan meninggalkan satu istri, dan satu anak yang duduk di bangku kelas tiga SMP.

Penyebab kecelakaan beruntun yang melibatkan 21 kendaraan di Jalan Tol Purbaleunyi terungkap. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (Olah TKP) dan pemeriksaan saksi, Polres Purwakarta mengetahui bahwa truk penabrak over kapasitas sekitar 13 ton. Kedua truk yang terguling dan menabrak milik satu perusahaan.

Kapolres Purwakarta AKBP Martius menuturkan, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dump truk Subana Bin Talkam diketahui sejumlah fakta. Subana merupakan pengemudi dump truck kedua, yang menabrak empat kendaraan saat menunggu evakuasi dump truck yang terguling. ”Kedua truk ini dari satu perusahaan ya. Muatannya sama, tanah,” terangnya dihubungi Jawa Pos kemarin sore.

Dari pengakuan Subana diketahui awalnya kedua truk melaju sejajar. Truk yang dikemudikan SB berada di depan truk yang dikemudikan Dedi Hidayat. Tak berapa lama, truk yang dikemudikan Dedi menyalip truk Subana. ”Saat itu Dedi lalu menelepon kalau remnya blong akibat kurang angin di rem,” jelasnya .

Sesaat kemudian, Dedi kembali menelepon Subana dan memberitahukan bahwa remnya sudah normal. Tapi entah bagaimana, ternyata truk yang dikemudikan Dedi akhirnya terguling. ”Truk yang dikemudikan Subana masih di belakang,” terangnya.

Nah, saat empat kendaraan berhenti karena truk terguling. Truk yang dikemudikan Subana baru mau sampai ke lokasi. Namun, kejadian yang sama terjadi, truk tersebut mengalami rem blong. ”akhirnya menabrak empat mobil dan membuat kendaraan di belakangnya juga mengalami hal yang sama,” ungkapnya.

Untuk pengemudi truk Dedi meninggal dunia karena kecelakaan tersebut. Menurutnya, sesuai pengakuan Subana diketahui bahwa truk yang dikendarainya bermuatan melebihi kapasitas. Yang batas maksimalnya hanya 24 ton malah digunakan memuat 37 ton. ”Ada kelebihan beban 13 ton,” terangnya. Juga berdasar olah TKP, diketahui bahwa ada turunan panjang di jalan tol tersebut. Dengan begitu diduga kelebihan beban dikombinasikan dengan turunan panjang membuat pengereman tidak maksimal. ”Tabrakan terjadi,” tuturnya.

Sementara Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, ternyata korban meninggal dunia hanya ada delapan. Bukan sembilan seperti kemarin. ”Dari delapan itu empat telah teridentifikasi,” tuturnya.

Empat orang yang teridentifikasi itu yakni, Dedi Hidayat, Ngendi Budiyanto, Iwan Bin Nisin dan Hendra Cahyana. Untuk empat korban meninggal dunia lainnya masih diidentifikasi di RS Polri Kramat Jati. ”Di Pindah ke RS Polri untuk proses identifikasi,” paparnya.

Badan Jalan Tol Purbaleunyi di KM 91 memang menurun. Sehingga pengendara mesti hati-hati jika melaju dengan kecepatan tinggi. Kontur pegunungan membuat badan jalan agak tinggi dengan jurang di kanan kiri jalan.

Dari data yang dikumpulkan Jawa Pos saja, sudah 3 kali kecelakaan yang terjadi di sekitara Km 90-hingga 91 sejak bulan Februari hingga September 2019. Humas PT Jasa Marga Cabang Purbaleuyi Nandang mengungkapkan pihaknya berencana akan menambah fitur keamanan tambahan di KM 91 Jalan Tol Purbaleunyi. Diantaranya adalah penambahan lampu PJU. “Untuk jumlah dan sebagainya masih dikaji dulu,” jelasnya pada Jawa Pos kemarin (3/9).

Selain itu, ramai diperbincangkan bahwa badan jalan KM 91 tidak aman karena rawan longsor. Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Pergerakan Tanah Wilayah Barat PVMBG Sumaryono memang kawasan tersebut memiliki risiko gerakan tanah lambat. “Tapi memang sudah ada dari dulu. Jadi tidak ada kaitannya dengan kecelakaan,” jelasnya.

Sumaryono mengatakan, sepengetahuannya, pihak jalan tol telah melakukan beberapa rekayasa engineering untuk mengatasi potensi gerakan tanah ini. “Lereng-lereng sudah diperkuat untuk Km 91-92,” katanya.

Sementara itu, hingga kemarin, olah TKP terus dilangsungkan di KM 91. Untuk mendukung upaya kepolisian ini, JM Cabang Purbaleunyi menerapkan skema contraflow dan pengalihan arus lalu lintas. pengendara jalan dari arah Bandung ke arah Jakarta dapat keluar di GT Cikamuning dan masuk kembali lagi ke Jalan Tol Cipularang melalui GT Jatiluhur. (zky/tau)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here