Home TANGERANG HUB Kekeringan Meluas, Status Masih Siaga

Kekeringan Meluas, Status Masih Siaga

0
SHARE
KRISIS AIR: Warga di Desa Serdang Kulon, Kecamatan Panongan mengantre untuk mendapatkan air bersih yang disalurkan BPBD Kabupaten Tangerang, beberapa waktu lalu. FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

CURUG – Musim kemarau di Kabupaten Tangerang sudah berlangsung lima bulan. Dampaknya, lahan pertanian di 26 kecamatan mengalami kerusakan mulai ringan, sedang hingga berat. Selain pertanian, warga di beberapa kecamatan sudah merasakan krisis air bersih. Namun, status bencana akibat musim kemarau berkepanjangan belum naik status menjadi darurat.

Sedangkan, kecamatan yang mulai kekurangan air bersih yakni di Kecamatan Panongan, Kresek, Curug dan Legok.  Kemudian warga di Kecamatan Teluknaga, Kosambi dan Mauk. Ditambah, Kecamatan Tigaraksa, Jambe dan Rajeg.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Kosrudin mengatakan, sumur tanah milik warga sudah mulai mengering. Dampak kekeringan sudah meluas namun belum mencapai level darurat. “Kekeringan sudah meluas sekira 10 kecamatan dengan 15 kelurahan/desa,” katanya kepada Tangerang Ekspres, Minggu (12/9).

Bahkan, ada warga di Kelurahan Curug, Kecamatan Curug meminta dikirimi air bersih sebanyak satu unit mobil dalam sehari. Kosrudin mengatakan, pengriman sudah berlangsung sekitar tiga hari belakangan ini. “Kita berfokus kepada pengiriman air bersih. Kelurahan Curug itu ada kelurahan yang rutin kita kirim dua mobil setiap hari. Namun, sejak kemarin sudah saya kurangi menjadi hanya satu unit saja pengirimannya,” jelasnya.

“Ada 10 kecamatan dengan 15 desa yang sudah meminta air bersih kepada kita. Namun, warga tidak hanya meminta bantuan air kepada kita. Tapi juga ke PDAM dan Dinas Perkim jadi jumlah tersebut desa dan kecamatan yang mengajukan bantuan ke kita,” imbuhnya.

Selama ini, kata dia, BPBD memperoleh sumber air bersih dari sumur tanah yang ditampung pada dua tangki dengan total kapasitas delapan ribu meter kubik air. Ia mengungkapkan, air yang digunakan tujuannya untuk memadamkan kebakaran. Sehingga, tidak memasang saluran air bersih dari perusahaan daerah air minum (PDAM).

“Kita menggunakan air tanah dan tidak menggunakan saluran dari PDAM, karena kita prioritas pada kebakaran bukan menjadi sumber air bersih. Kalau sumur hanya satu yang ditampung ke dua tangki kapasitas empat ribu meter kubik. Kita mengirimkan dua unit mobil tangki air setiap harinya untuk disalurkan kepada warga,” tukasnya.

Sementara, Kasubdit Pengembangan Informasi Bencana, Henry D Manuhutu mengatakan, belum ada keputusan penetapan dari status bencana kekeringan. Sehingga, status bencana kekeringan akibat dari musim kemarau masih dalam level siaga.

“Kalau untuk penaikan status biasanya akan ada rapat koordinasi namun hingga kini belum ada. Jadi status kekeringan masih siaga, belum ada kenaikan level,” terangnya. (mg-10/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here