Home HUKUM Bayaran Untuk Membunuh Hakim PN Medan, Dijanjikan Umrah dan Rp 100 Juta

Bayaran Untuk Membunuh Hakim PN Medan, Dijanjikan Umrah dan Rp 100 Juta

0
SHARE
Tiga tersangka pembunuhan terhadap Jamaluddin, hakim PN Medan, Jefri Pratama, Zuraida Hanum dan Reza Fahlevi saat rekonstruksi di The Coffe Town Jalan Ngumban Surbakti Medan, Senin (13/1). FOTO: Triadi Wibowo/Sumut Pos

MEDAN-Reza Fahlevi, 29, satu di antara tiga tersangka pembunuh hakim Jamaluddin (55), hakim Pengadilan Negeri Medan. Ia menuduh istri pertama Jamaluddin, Zuraida Hanum, tidak menepati janji. Menurut Reza, Zuraida berjanji membiayai dirinya berangkat umrah berikut upah Rp 100 juta, jika misi pembunuhan berhasil. Misi itu nyatanya berhasil.

Jamaluddin dibunuh pelaku di rumahnya di Jalan Aswad, Perumahan Royal Monaco, Blok B Nomor 22, Medan, Sumatera Utara. Pembunuhan itu atas perintah Zuraida, istri Jamaluddin. Jasad Jamaluddin lalu dimasukkan ke dalam mobil Land Cruiser Prado dan dibuang ke kebun kelapa sawit di Dusun Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang pada Jumat 29 November 2019.

’’Dia (Zuraida, Red) wanita pembohong. Janji yang dia ucapkan tidak dipenuhi. Setelah selesai membunuh sampai akhirnya ditangkap, janji itu tidak terpenuhi. Dia wanita pembohong,’’ kata Reza melalui kuasa hukumnya, Dedi, seperti dilansir Sumut Pos kemarin (14/1). Menurut Dedi, kliennya melakukan aksi pembunuhan karena mendapat tekanan dari tersangka Zuraida Hanum (41), dan M. Jefri Pratama (42). ’’Sebetulnya klien kami ini tidak terlibat. Tapi, karena doktrin dan Jefri adalah abangnya, dia (Reza, Red) dipaksa,’’ dalihnya. Menurut dia, hal itu terungkap dalam rekonstruksi adegan ketiga sampai keenam.

Karena itu, lanjut Dedi, pihaknya akan mengajukan pengujian pernyataan maupun materi di PN Medan. Zuraida diduga menyampaikan pernyataan bohong. ’’Ada kebohongan besar yang dilakukan (Zuraida). Dari setelah membunuh sampai ini terungkap. Klien kami dalam paksaan melakukan aksi pembunuhan itu,’’ paparnya.

Sementara itu, tim kuasa hukum Zuraida berencana mengajukan penangguhan penahanan. Alasannya, kliennya memiliki anak di bawah umur atau berusia kurang dari 17 tahun. ’’Anaknya (Zuraida) kan masih kecil-kecil. Anaknya dua. Kalau dia ditahan, bagaimana anaknya itu?’’ ujar Onan Purba, kuasa hukum Zuraida, kepada Sumut Pos kemarin. ’’Soal dikabulkan atau tidak, itu wewenang penyidik,’’ kata dia.

Kasatreskrim Polrestabes Medan AKBP Maringan Simanjuntak yang dikonfirmasi mengenai rencana pengajuan penangguhan penahanan Zuraida menjawab pendek. ’’Silakan diajukan, itu hak tersangka,’’ tegas Maringan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here