Home TANGERANG HUB 10 Kecamatan Terserang DBD, Pembentukan Kader Jumantik Belum Merata

10 Kecamatan Terserang DBD, Pembentukan Kader Jumantik Belum Merata

0
SHARE
PERIKSA BAK MANDI: Kader Jumantik Puskesmas Tigaraksa, Kabupaten Tangerang saat memantau bak mandi agar terhindar dari jentik nyamuk. FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Kasus demam berdarah (DBD) di Kabupaten Tangerang sudah merambah di 10 dari 29 kecamatan. Kasusnya sudah 72 pasien yang telah dirawat di puskesmas dan rumah sakit umum daerah. Namun, data dari rumah sakit swasta belum ada pelaporan kepada dinas kesehatan (Dinkes).

Kepala Bidang Pencegahan Penanganan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmidzi mengatakan, secara statisktik kasus DBD pada tahun ini lebih rendah dibanding sebelumnya. Pada Januari terdapat 29 kasus, lalu Februari 27 kasus dan hingga awal Maret sudah 16 kasus.

“Musim pancaroba memang nyamuk cepat berkembang biak. Kita minta kecamatan dan desa menggalakan pembentukan kader jumantik dan Jumat bersih. Hal ini untuk meningkatkan kesadaran warga akan demam berdarah,” jelasnya kepada Tangerang Ekspres, Selasa (10/3).

Hendra menerangkan, 72 kasus demam berdarah tersebar di Kecamatan, Kronjo, Cisoka, Solear, Jambe, Panongan, Pagedangan, Cikupa, Curug, Pasarkemis dan Kresek. Data ini berdasarkan laporan puskesmas dan rumah sakit umum daerah.

“Terbanyak di Kronjo bukan Panongan ada 16 kasus. Kalau kecamatan lain hanya lima hingga delapan kasus. Saat ini tidak ada korban jiwa. Namun memang kader jumantik belum merata terbentuk,” ujarnya.

Hendra mengungkapkan, lambatnya pembentukan kader Jumantik terkendala pada besaran anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Menurutnya baru 10 kecamatan dan belum sepenuhnya desa terjangkau kader jumantik.

Ia menerangkan, telah mengeluarkan surat edaran kepada kepala desa, camat dan puskesmas perihal penanganan DBD. Adapun, kader yang saat ini ada di semua kecamatan yakni pemberantas sarang nyamuk (PSM) atau pemantau jentik nyamuk.

“Pembentukannya pakai dana pemerintah daerah. Kita perlu sosialisasi dan pelatihan kadernya. Bahkan kita juga pantau yang sudah terbentuk kader jumantik. Kita imbau warga selalu lakukan menutup genangan air, menguras bak mandi dan mendaur ulang barang bekas. Kita imbau kades untuk menggunakan anggaran desa guna membentuk satu rumah satu kader jumantik,” tutupnya. (sep/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here