Home TANGERANG HUB Kekurangan Air, Petani Pilih Pelihara Bebek

Kekurangan Air, Petani Pilih Pelihara Bebek

0
SHARE
BERIKAN MINUM: Yusuf sedang sediakan air minum untuk bebek peliharaannya, di Kampung Ciroge, Desa Mauk Barat, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Kamis (25/6). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

MAUK — Saat ini, Yusuf, warga Kampung Mauk Timur, RT 03/02, Kelurahan Mauk Timur, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, mengalihkan kesibukannya untuk memelihara bebek.

Biasanya saat musim hujan, dirinya juga disibukan untuk menggarap lahan persawahan padi seluas empat hektare, di Kampung Ciroge, Desa Mauk Barat, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

“Lahan sawah padi kami kebutuhan airnya ngandalin hujan. Walaupun status lahan sawah padi kami sebagai sawah irigasi teknis,” ungkapnya, Kamis (25/6).

Di Desa Mauk Barat ini kata Yusuf, empat hektare lahan padi garapannya hanya bisa satu kali panen dalam satu tahun. Dalam satu kali panen membutuhkan waktu mencapai 100 hari masa tanam.

Yusuf melanjutkan, ketika sedang tidak bertani, memilih mengalihkan kesibukannya dengan memlihara bebek. “Lumayan hasilnya, bisa buat makan keluarga dan kebutuhan lain. Ini sudah tahunan saya jalanin begini tiap tahun,” tuturnya.

Yusuf mengaku memelihara bebek tidak terlalu sulit. Tapi keuntungan dengan menjual bebek dan telur bebek dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. “Uangnya lumayan. Bisa nutupin kebutuhan hidup,” ujarnya.

Yusuf menyebutkan, memelihara bebek cukup mudah, pertama membeli bibit bebek usia 1 hari ataupun 2 hari. Setelah itu bibit bebek dirawat hingga usia 5 bulan sampai 6 bulan. “Setelah seusia itu, bebek betina sudah bertelur. Nah telurnya dijual dengan kisaran harga Rp1.200 sampai 1.700 per butir,” jelasnya, seraya menyebutkan memelihara 700 ekor bebek betina dan 400 ekor bebek jantan.

Yusuf menambahkan, bebek betina maupun jantan usia di atas 6 bulan juga bisa dijual dengan harga kisaran Rp50 ribu sampai Rp80 ribu per ekor. “Tapi kalau bebek betina selama aktif bertelur, kalau dijual sayang. Kalau sudah tidak produktif bertelur kisaran usia 2 tahun, barulah dijual pet ekor Rp50 ribu,” paparnya.

Di luar itu kata Yusuf, dia pernah mencoba menanam timun di lahan yang sama, tapi tidak berhasil. “Malahan rugi, karena hasilnya tidak maksimal, akibat airnya sumur bor disini ga cocok,” pungkasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here