Home TANGERANG HUB Kisah Pria Tua Penjual Garam

Kisah Pria Tua Penjual Garam

0
SHARE
Kisah Pria Tua Penjual Garam
JUAL GARAM:  Budiharto, pedagang garam menjajakan dagangannya di depan SDN Karet I, Jalan Raya Cadas-Sepatan, Desa Karet, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, kemarin. FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

SEPATAN — Meskipun usianya tak muda lagi, Budiharto, pedagang garam kasar, tetap semangat menjajakan dagangannya di depan SDN Karet I, Jalan Raya Cadas-Sepatan, Desa Karet, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang.

Setiap pagi, pria yang akrab disapa Budi itu mengaku berangkat dari tempat tinggalnya sekitar pukul 06.00 WIB, di wilayah Kelurahan Neglasari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Dengan sisa tenaganya, Budi mengendarai sepeda tua menempuh jarak sekitar 5 kilometer untuk bisa sampai ke depan SDN Karet I. Dalam perjalan sejauh itu, Budi memerlukan waktu 1 jam sampai 1 setengah jam untuk sampai di sekolahan tersebut.

“Tiap hari, saya bawa 25 bungkus garam kasar. Dijual Rp10 ribu per bungkus. Dari tiap bungkusnya, saya punya komisi Rp2.000. Ini barang punya bos saya. Bos juga adalah orang yang menyediakan tempat tinggal untuk saya,” kata Budi, kepada Tangerang Ekspres, Selasa (21/7).

Budi menuturkan, sudah berjalan 1 bulan jualan garam kasar di depan SDN Karet I. Ia bersyukur tidak ada yang memarahinya berjualan garam kasar di depan sekolahan tersebut. Sebab lokasi sekolahan sangat strategis.

Budi mengaku sudah lama merantau ke Tangerang. Sebelumnya ia berprofesi sebagai tukang servis sepeda dan barang-barang elektronik. Namun sekarang sudah sepi pelanggan, bahkan sampai tidak mampu bayar kontrakan.

“Beruntung, saya punya bos yang mau menyediakan tempat tinggal di wilayah Neglasari. Kadang kalau bengkel las bos saya lagi ramai, saya juga disuruh ikut bantu-bantu,” tuturnya.

Budi mengungkapkan masih memiliki saudara. Namun Budi mengaku lebih senang mencari uang sendiri, dari pada meminta kepada saudara-saudara kandungnya. Sebab walapun sedikit terpenting hasil kerja sendiri.

“Alhamdulillah, dagangan saya sering terjual habis, walaupun sesekali tidak sampai terjual semua. Namanya dagang barang pasti ada terjual semua dan tidak terjual semuanya,” pungkas Budi. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here