Home TANGERANG HUB Tangerang Raya Zona Merah

Tangerang Raya Zona Merah

0
SHARE
Tangerang Raya Zona Merah
Petugas kesehatan harus bekerja keras lagi, kasus Covid di Tangerang Raya melonjak dan kembali masuk zona merah. FOTO: Fajar Indonesia Network

SERANG-Lonjakan kasus Covid-19 di Provinsi Banten masih terjadi hampir di semua daerah. Jumat (11/9) lalu, Pemprov Banten menyatakan Kota Tangsel kembali masuk zona merah Covid-19 yang sebelumnya oranye. Kota Tangsel menyusul dua wilayah tetangganya, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang yang sudah lebih dauhulu kembali ke zona merah. Ini berarti Tangerang Raya zona merah Covid-19.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten awal September 2terjadi 97 kasus baru. Akibatnya pada 2 September, Kota dan Kabupaten Tangerang dinyatakan zona merah Covid-19 di Banten. Sedangkan enam daerah lainnya menjadi zona oranye.

Sementara sepekan kemarin, terjadi 68 kasus baru di enam kabupaten/kota. Terbanyak di Kota Cilegon sebanyak 23 orang positif Covid. Disusul Kota Tangerang 19 orang, Kota Tangsel 11 orang, Kabupaten Pandeglang 8 orang, Kabupaten Serang 4 orang dan Kota Serang 3 orang. Sementara di Kabupaten Lebak dan Kabupaten Tangerang meskipun tidak ada kasus positif, namun kasus suspek cukup tinggi.

“Kota Tangsel jadi zona merah Covid menyusul Kota dan Kabupaten Tangerang. Sementara Kota Cilegon dan Kabupaten Lebak siaga zona merah,” kata Kepala Dinkes Banten dr Ati Pramudji Hastuti kepada Radar Banten, Jumat (11/9).

Ia melanjutkan, berdasarkan hasil evaluasi perkembangan data terbaru pada 11 September 2020 oleh para pakar epidemiologi BNPB, urutan zona resiko Covid-19 di Provinsi Banten berdasarkan nilai risiko. Tiga daerah masuk zona merah, yaitu Kota Tangerang (1,57), Kota Tangsel (1,71, dan Kabupaten Tangerang (1,79). Sedangkan zona oranya Kota Cilegon (1,83), Kabupaten Lebak (1,89), Kota Serang (2,05), Kabupaten Pandeglang (2,08) dan Kabupaten Serang (2,19).

“Penilaian zonasi ini dilihat dari Epidemiologi, surveilans kesehatan dan pelayanan kesehatan yang keseluruhan indikator berjumlah 15. Di mana zona merah nilainya 0-1,8, oranye 1,9-2,4, kuning 2,5-3 dan hijau untuk yang tidak ada kasus,” beber Ati. Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Banten ini mengingatkan, Kota Cilegon dan Kabupaten Lebak siaga zona merah. Sehingga diperlukan upaya pencegahan dan penerapan protokol kesehatan yang lebih masif lagi.

“Meskipun Kota Cilegon dan Kabupaten Lebak masih zona oranye, namun angkanya sudah mendekati ke zona merah,” tegasnya.

Terkait jumlah warga Banten yang meninggal dunia, Ati menyebutkan terjadi penambahan tiga kasus. “Pada Kamis lalu, jumlah yang meninggal dunia 148 orang, tapi Hari ini (kemarin) jumlah warga Banten yang meninggal menjadi 151 orang,” paparnya. Sementara itu, Ati pun mengungkapkan Banten melakukan persiapan dan antisipasi terjadinya peningkatan kasus Covid-19.

Saat ini terdapat 114 rumah sakit (RS) di Banten yang bisa menangani kasus virus Corona. “Kami permudah akses pelayanan bagi pasien terpapar virus Corona,” ujarnya.

Ia mengatakan, dengan fasilitas yang tersedia maka pasien Covid-19 masih dapat tertampung. Apabila sudah mendekati kapasitas maksimal maka pihaknya siap menjadikan RSUD Banten kembali sebagai RS Pusat Rujukan Covid-19. Saat ini, RSUD Banten memiliki 250 ranjang, yang terdiri dari 100 unit untuk pasien Covid-19, sedangkan selebihnya untuk pelayanan kesehatan umum. Kata dia, sistem penanggulangan gawat darurat terpadu terus dilakukan pemantauan.

Sampai saat ini, pasien Covid-19 di Banten yang membutuhkan perawatan di RS masih tertampung. Hanya saja, lanjut Ati, jika terjadi over capasity maka disaster plan. “Kami akan kembali menjadikan RSUD Banten sebagai pusat rujukan covid dengan seluruh bed (ranjang-red) hanya untuk covid,” terangnya.

Ia mengatakan, sejak awal pandemi, masing-masing daerah di Jabodetabek dan sekitarnya sudah saling merawat pasien Covid-19 dari luar wilayahnya. Oleh karena itu, Banten pun saat ini siap menerima pasien dari DKI Jakarta. “Selama berlangsungnya pandemi, warga Jabodetabek ada yang dirawat di masing-masing daerah tersebut,” ujar Ati.

Ia mencontohkan, ada warga DKI Jakarta, Bekasi, Depok, dan Bogor yang dirawat di RS di wilayah Provinsi Banten. Begitu juga sebaliknya, ada warga Banten yang dirawat di Jakarta, Bekasi, Depok, dan Bogor.

Kata dia, selain menyediakan fasilitas layanan, pihaknya juga melakukan penyaringan atau screening dan atau penelusuran tracing melalui swab test. Dari target yang ditetapkan WHO, satu persen dari jumlah penduduk yaitu 120.000 orang. Sementara capaian swab se-Banten baru 81.260 orang. Ati mengaku, seluruh kabupaten/kota sedang berupaya melakukan peningkatan swab PCR (polymerase chain reaction) melalui kegiatan tracing dan screening yang masif. Diharapkan, target akan tercapai di awal Desember nanti.

Terpisah, Direktur Utama RSUD Banten dr Danang Hamsah Nugroho mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah persiapan untuk bisa melayani pasien Covid-19 dan umum bersamaan. “Alhamdulillah kami sudah siapkan detail persiapan. Protokol Covid-19 dilaksanakan. Setiap pengunjung harus memakai masker, mencuci tangan, hingga social distancing,” terangnya.

Sebagai bentuk antisipasi lainnya, ia mengatakan, RSUD Banten melakukan pemisahan gedung pelayanan baik ruang rawat, ruang operasi, intensive care unit (ICU) dewasa dan anak, serta hemodialisa. Hal yang sama juga diterapkan untuk ruang apotek yang juga dipisah antara rawat jalan, IGD, dan rawat inap untuk mengurangi antrean. Selain itu, pembatasan pendamping pasien dan jam besuk tetap diberlakukan. (rbnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here