Home OLAHRAGA Potensi Medali Emas dari Dexy di Ajang Pattaya International Windsurfing Cup 2019

Potensi Medali Emas dari Dexy di Ajang Pattaya International Windsurfing Cup 2019

0
SHARE
NOMOR TIGA: Dexy Priany (kanan) mampu mengatasi persaingan dengan atlet Korsel untuk menempati posisi ketiga di nomor RS One Pattaya International Windsurfing Cup 2019 di Thailand. FOTO: RBNN

GAMBARAN medali emas PON XX/2020 di Papua ada dalam benak Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Pengprov Porlasi) Banten usai hasil cemerlang dicatat oleh Dexy Priany pada ajang Pattaya International Windsurfing Cup 2019, Minggu (20/1/2019). Dexy mampu meraih medali perunggu pada kejuaraan yang digelar di Pantai Jomtien, Kota Pattaya, Thailand.

Dexy yang tampil di RS One meraih posisi ketiga karena gagal meraih poin kesalahan minimal dan hanya mampu meraih poin 23. Dexy kalah dari atlet Malaysia Muhammad Bzuddim Bin Abdul Rani yang mengemas poin kesalahan lebih kecil yakni 19.

Keduanya tertinggal dari atlet tuan rumah Bunyarit Sangngern yang mampu mencatat poin kesalahan minimal 13 poin. Sehingga berhak menjadi juara pada nomor yang diikuti 9 atlet dari 7 atlet negara-negara Asia.

“Hasil yang diraih Dexy membawa optimisme buat kami layar bisa mempertahankan tradisi medali emas atau bahkan melebihinya. Dengan bisa berada di posisi ketiga setidaknya ini gambaran kekuatan di Pra PON maupun PON, karena atlet windsurfing Indonesia kemampuannya ada dibawah dua atlet ini,” ucap Asep Yusuf Syahrir Ketua Pengprov Porlasi Banten.

Apalagi kata Asep pada 3 dari 12 race yang dilangsungkan pada 17-20 Januari tersebut Dexy mampu meraih peringkat pertama dan sempat memimpin klasemen. Bahkan dari poin yang dihasilkan Dexy, atlet asal Kabupaten Tangerang itu hanya terpaut tipis dari dua peselancar asal Asia Tenggara tersebut.

Jika di Asia Tenggara Dexy mampu bersaing, Asep cukup yakin atlet ini akan mampu bersaing di level nasional. Apalagi peraih juara dan runner-up pada kejuaraan kali ini adalah atlet andalan masing-masing negara di SEA Games 2019 di Filipina nanti.

Sedang di Indonesia, kata Asep, saingan Dexy hanyalah tinggal legenda selancar angin Indonesia Oka Sulaksana. Meski kalah pengalaman dari Oka, tapi Dexy punya potensi lebih baik lantaran usia lebih muda dan stamina yang dimiliki.

Saat ini diakui Asep, Dexy tinggal ditempa dengan latihan untuk membenahi kekurangan yang ada dan memperdalam teknik yang dimiliki. Ditambah dengan lebih sering mengikuti event sejenis di level Asia atau bahkan dunia.

Sementara itu hasil kurang memuaskan dicatat peraih medali emas PON XIX/2016 di Jawa Barat, Ratiah. Tampil di RSX Women Ratiah tidak mampu bersaing untuk memperebutkan posisi juara.

Dari empat peserta Ratiah hanya mampu berada di peringkat juru kunci yakni posisi keempat klasemen. Ratiah yang mengemas nilai kesalahan 39 kalah dari dua atlet tuan rumah Siripon Kaewduang-ngam dan Sarocha Prumprat yang menempati posisi kedua dan ketiga diakhir klasemen.

Siripon dan Sarocha mengemas nilai kesalahan minimal yakni 10 poin dan 20 poin. Ratiah juga kalah dari atlet Singapura yang menempati posisi ketiga yakni Amanda Ng dengan 26 poin.

“Ratiah memang cukup sulit mengembangkan kemampuan, tapi dari sini kita lihat kekurangan yang dimiliki Ratiah dan akan kita perbaiki di Indonesia nanti. Menghadapi lawan yang kompetitif akan memudahkan evaluasi, karena kelemahan kita akan terlihat jelas,” tutup Asep. (apw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here