Home TANGERANG HUB Lestarikan Lenong Betawi di Era Milenial

Lestarikan Lenong Betawi di Era Milenial

1
SHARE
LENONG: Pemain Lenong Betawi, memainkan peran saat melakukan pertunjukan di Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, belum lama ini. FOTO: Zakky/Tangerang Ekspres

PAKUHAJI — Memperingati HUT ke-73 RI, Jaringan Anak Rakyat (Jankr) menggelar pertunjukan kesenian tradisional Lenong Betawi di halaman Kantor Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Skemarin. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan kesenian tradisional yang semakin tertinggal.

Ketua Jankr Darma megatakan, pihaknya mencoba melestarikan kesenian tradisional Lenong Betawi melalui peringatan HUT RI pada 2018 ini. Lenong Betawi merupakan salah satu aset budaya masyarakat di Kabupaten Tangerang bagian utara. Sebab, banyak pelaku kesenian tersebut, diantaranya Lenong Putri, Sinar Terang, Cahaya Muda, Sinar Abadi, Ginseng, Tujuh Bersaudara, Pusaka Jaya, Betet Ireng dan lainnya masih tetap eksis manggung.

“Kami memilih pertunjukan Lenong untuk meriahkan HUT RI, karena melalui pertunjukan Lenong bisa menyampaikan salah satu cerita perjuangan pada masa penjajahan. Selain itu, upaya melesatarikan kesenian tradisional supaya tidak hilang di negeri sendiri,” kata Darma.

Ia menyampaikan, Lenong merupakan kesenian teater tradisional rakyat Betawi, yang dibawakan dalam dialek Betawi di Jakarta. Menurutnya, skenario Lenong umumnya mengandung pesan moral melalui cerita sejarah dan kehidupan sehari-hari, yaitu menolong yang lemah, meninggalkan sifat kerakusan serta perbuatan tercela. Meskipun mengandung pesan moral yang tinggi, Lenong dimainkan dengan ciri khas yang humoris.

Ia menuturkan, Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Lakon-lakon Lenong berkembang dari lawakan-lawakan tanpa plot cerita, yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh.

Darma menyebutkan, akting pemain lenong dapat disejajarkan dengan pemain film saat ini. Pemeran handal memerankan karakter yang diperankan, sehingga mampu memainkan emosi penonton. Bahkan, sambungnya, ada seorang pemain lenong yang berperan menjadi tokoh pejahat kerap diolok masyarakat setelah pementasan selesai.

“Pemain pria disebut panjak dan pemain wanita disebut ronggeng. Lawakan dan musik pengiring bagian khas dari pertunjukkan Lenong,” tutupnya. (mg-2/mas)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here