Home BISNIS Cara Dian Fitriani Jadikan Bir Pletok Minuman Favorit

Cara Dian Fitriani Jadikan Bir Pletok Minuman Favorit

0
SHARE
SEGER: Bir pletok olahan Dian Fitriani dijajakan dengan beragam varian rasa agar bisa dinikmati semua kalangan, Kamis (23/8). FOTO: Ramzy/Tangerang Ekspres

Bir Pletok merupakan minuman khas masyarakat Betawi yang sudah ada sejak penjajahan Belanda. Dibuat dari bahan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, bunga pala, lada, dan kayu manis. Bir pletok baik untuk kesehatan terutama orang yang susah tidur.

Kini minuman penghangat badan itu sudah memiliki beberapa varian rasa diantaranya, lemon dan madu yang ternyata mampu memikat lidah para generasi muda di Tangerang. Kemasan yang minimalis dan kecil menjadikan bir pletok sebagai minuman untukpara traveller.

Bir pletok dengan rasa kekinian merupakan hasil olahan dari Dian Fitriani, warga Kecamatan Cibodas. Ia menyajikan varian rasa dengan tujuan agar bir pletok kembali menjadi minuman favorit, khususnya untuk anak muda.

“Biasanya bir ini disuka sama bapak-bapak aja tapi, sekarang saya mau menularkan ke generasi muda juga. Jadi, bisa rasain juga gimana bir itu. Kalau bahannya sih biasa saja tapi, untuk yang ada rasa-rasa selain jahe ini, tentu ada ramuan khusus selain rasa asli dari lemon atau madu itu sendiri,” katanya di Rame-Rame Jajan Kuliner Nostalgia Tangcity Mall, Kamis (23/8).

Selain dua rasa tersebut, ada beberapa rasa lainnya seperti, kunyit, beras kencur, dan jahe merah yang memang menjadi rasa umum pada bir pletok. Saat mencicipi minuman khas ini, pada tegukan pertama mulai terasa sensasi hangat yang timbul dari kandungan jahe sebagai bahan utama.

“Bir pletok sebenarnya minuman penghangat. Jadi zaman dulu kalau orang betawi melihat orang-orang belanda minum bir sebagai penghangat badan,” ucap Dian.

Namun minuman beralkohol dilarang untuk diminum masyarakat betawi yang notabene mayoritas beragama Islam. Sehingga masyarakat membuat alternatif lain minuman penghangat badan menggunakan bahan dasar jahe merah.

“Jadi alternatifnya pakai jahe merah. Air jahe dimasukkan ke bambu panjang dan pakai batu es. Kemudian pas dikocok bunyinya ‘pletok-pletok’. Jadi disebut bir pletok. Itu asal muasalnya,” ujarnya.

Dalam sebulan, Dian mampu meraup keuntungan Rp 3 juta dari penjualan bir kekinian tersebut. Bir ini dijual di beberapa lokasi, kawasan Cibodas dan salah satu booth di Rame-Rame Jajan Kuliner Nostalgia yang hadir di wilayah Lapangan Parkir Perintis, Tangerang City. Bir pletok ini pun bisa membuka pemesanan online lewat akun instagram @bentengkayakuliner.

Kalau soal harga tak perlu khawatir, karena hanya perlu mengeluarkan Rp10 ribu, para pemburu kuliner dengan rasa unik bisa segera mencicipi minuman ini. Rasanya juga mampu membawa para penikmat bernostalgia.(Mg-11)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here