Home TANGERANG HUB Pakai Biogas, Irkaba 45 Tak Hanya Tempat Baca

Pakai Biogas, Irkaba 45 Tak Hanya Tempat Baca

1
SHARE
POS TBM: Para remaja Setu menyulap pos kamling menjadi pos TBM-EM Irkaba 45 di Setu, Minggu (30/9). FOTO: Tri Budi/Tangerang Ekspres

SETU-Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany meresmikan Taman Bacaan Masyarakat Energi Mandiri Ikatan Remaja Kademangan Bawah RT 4/5 (TBM-EM Irkaba 45) di Jalan Momonggor RT3/5 Kelurahan Kademangan, Setu, Minggu (30/9).

TBM-EM Irkaba 45 adalah TBM ke 81 dalam Komunitas TBM Masyarakat Gemar Membaca (Magma) Kota Tangsel, serta TBM pertama yang memakai biogas sebagai energi, dan hidroponik. TBM tersebut menggunakan bangunan yang sebelumnya dipakai untuk pos kamling di atas lahan milik warga.

Ketua Irkaba 45 Lucky Adam mengatakan, berdirinya TBM berawal dari kekhawatiran para remaja sekitar terhadap teknologi yang merusak anak-anak.

“Anak-anak lebih senang bermain games di gadget dari pada belajar, orangtua lebih senang berinteraksi dengan grup chattingnya dari pada berinteraksi dengan anak-anak,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Minggu (30/9).

Lucky menambahkan, dengan adanya TBM tersebut diharapkan bisa memberikan wawasan yang cukup dan menjadi filter bagi anak-anak. “Serta bisa tumbuh kembangkan minat baca anak-anak dan menciptakan generasi yang mandiri,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas TBM Magma Kota Tangsel Herlina Mustikasari mengatakan, TBM-EM Irkaba 45 merupakan TBM ke 81 di bawah komunitas TBM Magma yang berdiri sejak 2010. Dari 2010 sampai 2018 sudah beberapa kali TBM di Tangsel jadi juara tingkat nasional. “2010, 2011, 2017 dan 2018 kita juara nasional dari Kemendikbud,” ujarnya.

Herlina berharap, TBM-EM Irkaba 45 juga berpotensi menjadi juara nasional. TBM tersebut dilengkapi dengan 500 buku bacaan, mulai dari novel, buku anak-anak, memasak dan lainnya.

Menurutnya, ada fasilitas yang tidak dimiliki TBM lain di TBM-EM Irkaba 45, yakni memiliki fasilitas biogas.

“Itu adalah TBM energi mandiri pertama yang memanfaatkan kotoran sapi dijadikan gas. Gasnya bisa dipakai untuk masak di TBM tersebut, bagi masyarakat yang lapar atau hanya ingin merebut air untuk menyeduh kopi bisa menggunakan kompor yang bahan bakarnya dari biogas yang berasal dari kotoran sapi,” tambahnya.

Selain, warga sekitar juga menanam sayuran dengan sistem hidroponik semua peralatannya dibuat sendiri. “Lokasi TBM ke-81 ini dulunya adalah kandanag ayam, tempat menaruh karanda mayat milik Musala yang ada di dekatnya,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengatakan, jumlah taman bacaan di Tangsel terus bertambah. “Semoga ini menunjukan jika masyarakat benar-benar memiliki kesadaran budaya untuk membaca merupakan budaya yang penting dan bermanfaat,” ujarnya.

Airin menambahkan, ada beberapa tantangan dan harapan yang harus disikapi terkait dengan taman bacaan. Yakni, harus berupaya bersama-sama agar taman bacaan yang telah dibentuk dapat benar-benar “hidup”. Artinya, taman bacaan itu memiliki aktifitas yang terus berjalan secara rutin.

Ia tidak mengharapkan, taman bacaan yang sudah susah payah dibentuk, nantinya ternyata tidak memiliki aktifitas dan terkesan “mati suri”. “Ini tentunya merupakan permasalahan yang harus dicarikan penyebab dan solusinya,” tambahnya.

Masih menurutnya, tantangan lain yang dihadapi adalah bagaimana mengembangkan taman bacaan agar dapat lebih banyak lagi menarik minat, terutama minat anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja harus terus diupayakan memiliki budaya membaca.

Dengan budaya membaca, disamping mereka akan mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan, yang tidak kalah pentingnya, mereka juga akan terhindarkan dari pergaulan atau pengaruh-pengaruh yang tidak baik.

Ibu dua anak tersebut berharap, jam buka taman bacaan tersebut agar dibuat lebih lama dan frekuensinya lebih sering. Sehingga akan semakin besar kesempatan masyarakat untuk mengakses taman bacaan.

Namun, salah satu tantangan terberat dalam mengelola taman bacaan saat ini adalah sekarang zamannya digital, semua kalangan masyarakat memiliki gadget atau smartphone.

“Tentunya perkembangan teknologi ini ada sisi positif dan negatifnya, tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengarah kan anak-anak untuk dapat memanfaatkan perkembangan ini dengan baik,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangsel Dadang Raharja mengatakan, telah menyumbang 250 eksemplar buku ke TBM-EM Irkaba 45. Mulai dari buku-buku fiksi, anak-anak sampai pengetahuan umum. “Kedepan jumlah koleksi bukunya akan kita tambah lagi,” ujarnya.

Dadang berharap, pengurus TBM jangan hanya mengandalkan bantuan buku-buku dari dinas namun, juga harus melibatkan masyarakat. “Diharapkan warga bisa sumbangkan buku untuk tingkatkan minat baca masyarakat,” tambahnya.

Hal senada dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel Taryono. Untuk mencerdaskan anak-anak tidak semuanya tanggung jawab pemerintah namun, juga peran serta masyarakat. “TBM itu hadir sebagai salah satu cara untuk cerdaskan anak bangsa, Dindikbud hadir dari sisi kelembagaan dan sarannya,” singkatnya. (bud/esa)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here