Home NASIONAL Musim Kemarau Hingga September, Jawa dan Sumatera Berpotensi Kekeringan Ekstrem

Musim Kemarau Hingga September, Jawa dan Sumatera Berpotensi Kekeringan Ekstrem

0
SHARE
KERING: Warga beraktivitas di tengah Sungai Cisadane yang mulai mengering di kawasan Pintu Air 10, Tangerang, Banten, Rabu (3/7/2019). Kekeringan yang melanda sungai tersebut sudah terjadi sejak satu bulan lalu yang disebabkan musim kemarau. FOTO: Antara/Muhammad Iqbal/wsj.

JAKARTA –Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan puncak musim kemarau di Indonesia akan berlangsung pada Juli hingga September 2019. Dalam tiga bulan tersebut akan terbagi beberapa wilayah yang mengalami puncak musim kemarau.

Kepala Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal menuturkan, Pulau Sumatra akan mengalami puncak kekeringan pada Juli. Sedangkan pulau Jawa akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus. Sementara itu, wilayah Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua akan mengalami puncak kekeringan pada September 2019.

Herizal juga mengatakan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memonitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 30 Juni 2019. Dari pengamatan itu diketahui terdapat potensi kekeringan meteorologis (iklim) di sebagian besar Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dengan kriteria panjang hingga ekstrem.

“Dari hasil analisis BMKG, teridentifikasi adanya potensi kekeringan meteorologis yang tersebar di sejumlah wilayah,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (4/7).

BMKG memantau sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kekeringan di antaranya Sumedang, Gunung Kidul, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, Tuban, Pasuruan dan Pamekasan. Potensi Awas atau telah mengalami HTH lebih dari 61 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 milimeter (mm) dalam 10 hari mendatang dengan peluang lebih dari 70 persen yaitu di Jawa Barat tepatnya Bekasi, Karawang dan Indramayu.

Serta di Jawa Tengah yaitu Karanganyar, Klaten, Magelang, Purworejo, Rembang, Semarangdan Wonogiri. Juga sebagian besar Jawa Timur dan DI Yogyakarta yaitu Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo dan Sleman.

Selain itu potensi kekeringan juga dapat terjadi di Buleleng Bali, Nusa Tenggara Timur yaitu di Sikka, Lembata, Sumba Timur, Rote Ndao, Kota Kupang, dan Belu. Serta di Nusa Tenggara Barat tepatnya di Bima, Kota Bima, Lombok Timur, Sumbawa dan Sumbawa Timur. Sementara, status Siaga atau telah mengalami HTH lebih dari 31 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 mm dalam 10 hari dengan peluang lebih dari 70 persen di Jakarta Utara dan Banten tepatnya di Lebak, Pandeglang, dan Tangerang.

Sedangkan status Waspada atau telah mengalami HTH lebih dari 21 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang dari 20 mm dalam 10 hari dengan peluang lebih dari 70 persen di Aceh tepatnya di Aceh Besar, Pidie dan Bireuen. Kondisi serupa juga terjadi di Jambi yaitu di Merangin, Batanghari dan Bengkayang, Way Kanan di Provinsi Lampung, Pulangpisaudi Kalimantan Tengah, Bengkayang di Kalimantan Barat serta di Bantaeng, Selayar, dan Takalar di Provinsi Sulawesi Selatan.

Air Waduk Kering
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan, sebanyak 10 waduk dari 16 waduk utama yang tersebar di seluruh Indonesia di bawah batas rata-rata untuk operasionalisasi. Waduk-waduk tersebut mayoritas terdapat di Pulau Jawa.

“Ada 10 waduk yang dia di bawah batas rencana. Maksudnya, untuk rencana operasi minimal air ketinggian 50 meter, sekarang dia di bawah 50 meter,” kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Hari Suprayogi seperti lansir Republika.co.id, Rabu (3/7).

Hari memastikan, meski 10 waduk tersebut debit air di bawah batas rata-rata, pihaknya memastikan hal itu masih tergolong normal. Operasional masih dapat dilakukan sehingga distribusi air dari waduk ke permukiman sekitar masih dapat dilakukan.

Sementara itu, enam waduk utama lainnya, berdasarkan laporan terakhir dari lapangan masih di atas rata-rata. Hari memastikan kondisi waduk utama sampai saat ini masih terjaga untuk dapat mengairi permukiman.

Untuk diketahui, sampai dengan saat ini terdapat 231 waduk yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain 16 waduk utama, terdapat pula 75 waduk besar lainnya yang tengah dipantau ketat oleh Kementerian PUPR. Hari mengatakan, dari 75 waduk itu, 14 waduk dalam kondisi normal, 55 di bawah batas rata-rata dan 6 waduk dalam kondisi kering.

“Tapi, 6 waduk yang kering itu skalanya tidak begitu besar dalam mengairi sekitarnya,” kata Hari.

Hari mengatakan, untuk dapat kembali mengoptimalisasikan fungsi waduk, satu-satunya hanya menunggu turunnya hujan. Sebab, fungsi waduk pada dasarnya hanyalah penampung air hujan dan mendistribusikannya ke area permukiman maupun persawahan.

Lebih lanjut, ia menambahkan, terkait persawahan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengatur pola tanam. Hal itu sudah dilakukan sejak jauh hari sebagai antisipasi musim kekeringan yang sudah diprediksi oleh BMKG. “Saat ini menurut BMKG, khusus di Jawa memang sedang memasuki fase puncak musim kemarau,” ujar dia.(rep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here