Home TANGERANG HUB Dinkes Data Penderita TBC

Dinkes Data Penderita TBC

0
SHARE
SOSIALISASI: Petugas Dinkes memberikan penjelasan mnegenai penyakit Tuberculocis (TBC) di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, beberapa waktu lalu. FOTO: DOK. Tangerang Ekspres

TIGARAKSA – Data penderita Tuberculosis (TBC) seperti fenomena gunung es. Diprediksi masih banyak penderita yang diketahui, maka penularan penyakit dapat dicegah. Di Kabupaten Tangerang sendiri, terdapat 9 orang sepanjang 2019.

Kepala Bidang Pencegahan Penyebaran Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmidzi mengatakan, penderita TBC sudah dikatakan tidak akan menular usai mengkonsumsi obat setelah dua minggu. Namun, obat tetap diharuskan dikonsumsi hingga enam bulan kedepan.

“Kalau berhenti minum obat sebelum waktu seharusnya, maka bakteri akan kebal obat dan susah diobati. Karenanya, kita menunjuk pengawas obat dari orang terdekat pasien. TBC penyakit yang bisa sembuh,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Sabtu (28/9).

Kata Hendra, setiap ditemukan penderita TBC akan dilakukan pemeriksaan sebnyak 20 rumah disekitar penderita untuk mencegah penularan penyakit. Hal tersebut dilakukan sesuai arahan kementerian kesehatan (Kemenkes) dengan slogan temukan, obati sampai sembuh (Toss). Menurutnya, cara seperti ini efektif mencegah penularan penyakit. Sebab, pemeriksaan akan terus berlanjut seperti jaring laba-laba, apabila ditemukan penderita baru TBC.

“Tahun ini kita ditargetkan harus menemukan penderita baru sebanyak 12 ribu, dimana hingga Agustus sudah mencapi 9 ribu. Maka, apabila ada penderita baru, kita akan lakukan pemeriksaan selain dari lingkungan sekitar rumah juga tempat bekerja atau sekolah. Sebab, dengan berhadapan atau mengobrol penularan TBC dapat terjadi,” jelasnya.

Faktor kekumuhan lingkungan dapat menyebabkan warga tertular penyakit TBC. Seperti kondisi rumah tidak layak huni, sanitasi sekitar buruk hingga tingkat pendapatan ekonomi terbilang rendah. Karenanya, diperlukan usaha lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memencegah serta mengurangi penyebaran penyakit TBC.

“Saya sudah laporkan kepada Badan Perencaan Pembangunan Daerah (Bappeda), wilayah yang banyak penderita TBC-nya. Agar semua pembangunan terfokus ke sana. Dan hasilnya, disambut baik,” jelasnya.

Karenanya, diharapkan peran aktif warga untuk berani memeriksakan diri kepada puskesmas atau klinik terdekat. Selian itu, kader TBC sudah tersebar hingga tingkat kampung dan desa. Sehingga penyabaran penyakit dapat dengan mudah dicegah.

“Makin banyak ketemu maka makin banyak yang terlindungi. Maka warga jangan takut diperiksa dahak kalau sudah tiga minggu batuk tidak sembuh,” katanya. (mg-10/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here