Home TANGERANG HUB Panasnya Kemarau jadi Berkah Para Pengrajin Batu Bata

Panasnya Kemarau jadi Berkah Para Pengrajin Batu Bata

0
SHARE
SUSUN: Rais, pengrajin batu bata merah sedang menyusun batu di Kampung Siang RT 01/01, Desa Pagenjahan, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Senin (28/10). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

KRONJO – Musim kemarau ini membawa berkah tersendiri pengerajin batu bata merah. Bahkan produksi para pengrajin hingga 100 persen jika dibandingkan dengan hari biasa atau sebelum musiam kemarau.

Panasnya matahari membawa berkah yang luar biasa bagi para pengrajin batu bata yang ada di Kampung Siang RT 01/01, Desa Pagenjahan, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang.

Jika pada musim penghujan para pengrajin ini membutuhkan waktu 1 minggu lebih, maka di musim kemarau mereka hanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari untuk proses pengeringan batu bata.

“Alhamdulillah, kemarau tahun ini produksi kita semakin meningkat,” kata Rais, pengrajin batu bata, kemarin. Rais per hari mampu memproduksi 900 batu bata merah per hari.

Rais mengatakan, membuatan batu bata merah secara manual. Mulai dari proses pencangkulan tanah. Kemudian pengadonan tanah. Lalu penyetakan tanah. “Kami bikin bata merah, masih cara manual semua, tidak ada yang pakai mesin,” kata Rais, kepada Tangerang Ekspres, Senin (28/10).

Rais menyebutkan, bersama keempat temannya bekerja mulai pagi sampai sore. Dalam waktu selama itu, pihaknya dapat memproduksi antara 800 sampai 900 batu bata merah. Pekerjaan itu sudah menjadi andalan warga selain menjadi buruh tani.

Rais memaparkan, adapun proses pembuatan bata merah diawali pencangkulan tanah, pengadonan tanah, penyetakan tanah adonan. Setelah itu, batu bata yang sudah dicetak dijemur. Setelah kering, bentuk batu bata dirapihkan dengan istilah yang disebut disisir. Berikutnya, batu bata dibakar menggunakan sekam atau sisa kulit padi.

“Terakhir barulah batu bata dikirim ke alamat para pelanggan maupun pemesan,” jelasnya.

Rais menyebutkan, memproduksi bata merah dengan ukuran panjang 25 sentimeter, lebar 12 sentimeter dan tebal 5 sentimeter. Bosnya menjual dengan harga Rp700 per batu bata. Harga itu jauh lebih murah dibandingkan harga batu bata yang dijual di matrial.

Menurut Rais, sebanyak 12 ribu batu bata dapat membangun bangunan dengan ukuran diatas lahan sepanjang 10 meter dengan lebar 6 meter. “Lalu tinggi bangunannya setinggi tiga meter,” ucapnya. Ia menambahkan, batu bata produskinya dipasarkan ke wilayah Kecamatan Kronjo dan sekitar.

Di tempat terpisah, Ruslan Aris, Penjabat Kepala Desa (Pj Kades) Pagenjahan mengatakan, wilayah Kampung Siang dikenal dengan wilayah pengrajin batu bata. Tiap kelompok pengrajin yang bekerja dengan salah seorang bos terdiri dari lima sampai tujuh orang. “Ada belasan kelompok pengrajin di kampung itu,” singkat Ruslan. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here