Home TANGERANG HUB Bayar Uang Kuliah dengan Koin Rp1.000 Ditolak Bank

Bayar Uang Kuliah dengan Koin Rp1.000 Ditolak Bank

0
SHARE
Bayar Uang Kuliah dengan Koin Rp1.000 Ditolak Bank
KOIN: Mutiah sedang menghitung koin recehan Rp.1000 untuk membayar biaya semester anak pertamanya yang menimba ilmu di Kampus UIN Ciputat, Kota Tangsel, Kamis (18/8). Pembayaran lewat bank BUMN dengan koin tersebut ditolak. FOTO: Asep Sunaryo/Tangerang Ekspres

CISOKA – Saeful Margasana (20) mahasiswa UIN Ciputat harus gigit jari saat hendak membayar daftar ulang semester lewat bank. Transferan Rp 3,5 juta dalam bentuk koin Rp 1000, ditolak bank. Alasannya, tidak ada mesin penghitung uang koin yang menjadi alasan bank.

Hal tersebut diceritakan akun @hewanberbicara di twitter pada Jumat (14/8). “Setelah antre satu jam di Bank Mandiri. Ternyata pihak bank tidak menerima uang receh seribuan. Karena mereka tidak punya mesin buat hitung, padahal bisa hitung manual,” cuit akun teresebut. Cuitan ini telah 1.811 kali di re-tweet.

Pemilik akun tersebut, Saeful, bertempat tinggal di Kampung Nyompok Tengah RT 14/05, Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang. Saat Tangerang Ekspres mendatangi kediamannya disambut kedua orang tua Saeful Margasana. “Saya sesalkan, karena bank tidak menerima uang koin. Uang koin kan juga alat pembayaran yang sah. Padahal kami sudah susun satu bungkus itu sebesar Rp100 ribu. Mereka kalau tidak mau hitung kan tinggal timbang beratnya. Itu semua koin recehan Rp1000 semua,” terang Mutiah (45) ibunda Saeful Margasana menuturkan kepada Tangerang Ekspres, Selasa (18/8).

Mutiah mengatakan, tidak ada kesengajaan membayar uang kuliah dengan koin recehan. Ia mengungkapkan, sudah ada tabungan Rp3 juta. Namun terpakai pembayaran semester anak keduanya. “Jadi terpaksa pakai koin,” lanjutnya. Mutiah terpaksa menukarkan uang koin itu ke 10 minimarket, untuk dijadikan uang kertas. “Keliling lebih dari 10 toko. Saat mengentre ke Bank Mandiri kembali. Ternyata sudah tutup, padahal pukul 14.00 WIB,” ujarnya.

Mutiah menceritakan, uang recehan tersebut dikumpulkannya dari 2015 yang dimaksudkan untuk membeli laptop untuk menunjang Saful di kampus. Uang receh tersebut sengaja disisihkan dan ditabung di botol plastik bekas air mineral. “Ada 8 botol lebih yang terisi. Ini sisa satu botol. Kita hitung satu botolnya Rp500 ribu. Uang yang terkumpul Rp3,5 juta. Berat koinnya 17,5 kilogram saya timbang. Kalau uang bayar semester itu Rp3.480.000,” ujarnya.

Ia berharap, perbankan dan kampus dapat mengerti keadaan saat ini yang serba tidak menentu akibat wabah pandemi Covid-19. Ia mengharapkan, adanya keringanan biaya perkuliahan diakarenakan menurunya pendapatan keluarga akibat corona.

“Saya jualan gorengan keliling ke kampung dan sekolah. Di rumah saya jualan juga dan buka tambal ban. Sekarang pendapatan turun karena sekolah tutup. Ini sudah tidak ada tabungan lagi untuk bayar uang sekolah dua anak saya. Sekarang Saeful sedang ke kampus, katanya mengurus beasiswa ke rektorat. Mudah-mudahan dapat,” pungkasnya. (sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here