Home BISNIS Tak Ada Kenaikan Tarif Listrik hingga Tahun Depan

Tak Ada Kenaikan Tarif Listrik hingga Tahun Depan

0
SHARE
PAMERAN KELISTRIKAN: Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian Zakiyudin (dari kiri), Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Andy N. Sommeng, dan Dewan Juri IBEA 2018 Tumiran berbincang di sela-sela pembukaan Pameran Kelistrikan dan Indonesia Best Electricity Award (IBEA) di Jakarta, Rabu (14/11).

Jakarta — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menegaskan tidak akan menaikkan tarif listrik hingga akhir tahun depan. Hal itu dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Sampai tahun depan kan tarif tidak ada perubahan,” ujar Andy Noorsaman Someng, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan di sela rangkaian acara Indonesia Best Electricity Award 2018 di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (14/11).

Menurut dia, pemerintah terus mengkaji untuk melakukan sejumlah penyesuaian di sisi hulu untuk membantu menekan biaya produksi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Salah satu yang masih dibahas adalah usulan PLN mengenai pengaturan harga khusus gas untuk perseroan. Namun, pemerintah masih mempertimbangkan usulan itu, sehingga tidak ada industri yang dikorbankan.

Secara terpisah, Direktur Regional PLN Jawa Bagian Barat Haryanto WS menjelaskan perseroan siap mendukung kebijakan pemerintah. Di tengah tren pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak, perseroan terus mencari cara menjaga kinerja keuangan.

“Tarif kan diatur dan merupakan kebijakan pemerintah. Kami ikut saja,” katanya.

Hal yang dilakukan perseroan untuk mempertahankan kinerja keuangan perseroan di antaranya efisiensi untuk menekan biaya pokok produksi dan meningkatkan penjualan.

“Penjualan yang meningkat akan menekan (rata-rata) biaya pokok produksi,” imbuh dia.

Selain itu, lanjut Haryanto, perseroan masih berpeluang untuk mendongkrak pendapatan perseroan, meski tarif listrik tidak naik. Caranya dengan memanfaatkan peluang untuk memperluas layanan pelanggan.

Misalnya, penyediaan layanan pengisian baterai mobil listrik dengan cepat di Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU). Semakin banyak pelanggan, terutama dari golongan premium, perseroan bisa meningkatkan penjualan listrik.

“SPLU fast charging segera lah, supaya industri pengembangan mobil listrik bisa tumbuh. Kami juga bisa lebih siap. Kami siap kok untuk mendukung (mobil listrik),” jelasnya.

Di samping itu, perseroan juga mendapatkan peluang peningkatan penjualan dari perkembangan moda transportasi publik, seperti LRT dan MRT. Meskipun, menurut dia, kebutuhan energi listrik moda transportasi tersebut tidak signifikan dalam mendorong penjualan.

“MRT itu cuma perlu 65 MegaWatt atau seperseratus dari kebutuhan DKI Jakarta. LRT yang paling juga 60 MW. Enggak nendang, tetapi (penjualan) kami nambah,” ucapnya.

Sebagai catatan, per kuartal III 2018, perseroan mencatatkan rugi bersih mencapai Rp18,46 triliun. Kerugian tersebut membengkak dibandingkan posisi kuartal II 2018 sebesar Rp5,35 triliun dan berbanding terbalik dibanding periode yang sama tahun lalu yang masih laba Rp3,06 triliun.

Merosotnya kinerja PLN terutama disebabkan kerugian atas selisih kurs, seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN Sofyan Basyir. Dia memastikan, tidak akan ada kenaikan tarif listrik tahun depan, meski perusahaan telah membukukan rugi bersih Rp18,46 triliun hingga kuartal III 2018. Pasalnya, kinerja operasional PLN dianggap masih sehat.

Menurut Sofyan Basyir, kinerja operasional perusahaan dianggap masih untung, karena nilai penjualan listrik masih lebih besar ketimbang beban operasionalnya. Ia mencatat laba operasional sebelum selisih kurs di angka Rp9,6 triliun atau naik 13,3 persen dibanding tahun lalu Rp8,5 triliun.

Hanya saja, perusahaan mendera rugi kurs. Kerugian akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) itu mempengaruhi total pinjaman perseroan yang dicatat di laporan keuangan. Dengan demikian, angka liabilitas perusahaan seolah-olah membengkak sejak awal tahun.

Selisih utang dari kuartal III 2017 hingga kuartal III 2018 dimasukkan sebagai beban kurs, dan otomatis menjadi faktor penggerus laba operasional. Ia menghitung, selisih kerugian kurs hingga September mencapai Rp17,33 triliun.

“Kami masih memiliki laba operasional, cash flow kami tidak terganggu, yang saya bilang rugi itu adalah rugi pembukuan saja, karena kami ada nilai utang yang berubah seiring kenaikan kurs dolar. Jadi tidak perlu panik, tarif listrik tidak naik,” jelas Sofyan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (31/10) lalu.

Ia tak menampik, pelemahan kurs rupiah juga menggembungkan beban operasional karena perusahaan membeli bahan baku listrik, seperti batu bara dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan valuta asing.

Ke depan, Sofyan mengatakan PLN sudah mulai mengantisipasi dampak kurs di tahun mendatang. Salah satunya adalah dengan melakukan penyesuaian profil pinjaman jatuh tempo utang, atau biasa disebut reprofiling. Tujuannya, agar beban pelunasan utang perusahaan semakin aman kendati kurs terus bergejolak.(dtc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here